Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Alor adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibukota Alor berada di Kalabahi. Penduduk Alor berjumlah sekitar 201.515 jiwa (2016), sedangkan luasnya adalah 2.864,6 km². Kabupaten ini berbentuk kepulauan dan dilintasi jalur pelayaran dagang internasional ke Samudera Pasifik.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat Alor, kerajaan tertua di Kabupaten Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaan Munaseli di ujung timur pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerajaan ini terlibat dalam sebuah Perang Magic. Mereka menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk saling menghancurkan. Munaseli mengirim lebah ke Abui, sebaliknya Abui mengirim angin topan dan api ke Munaseli. Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Munaseli. Konon, tengkorak raja Abui yang memimpin perang tersebut saat ini masih tersimpan dalam sebuah goa di Mataru. Kerajaan berikutnya yang didirikan adalah kerajaan Pandai yang terletak dekat kerajaan Munaseli dan Kerajaan Bunga Bali yang berpusat di Alor Besar. Munaseli dan Pandai yang bertetangga, akhirnya juga terlibat dalam sebuah perang yang menyebabkan Munaseli meminta bantuan kepada raja kerajaan Majapahit, mengingat sebelumnya telah kalah perang melawan Abui.

Sebelum masuknya agama-agama besar, penduduk Alor menganut paham animisme dan dinamisme. Mereka menyembah matahari (Larra/Lera), bulan (Wulang), sungai (Neda/dewa air), hutan (Addi/dewa hutan), dan laut (Hari/dewa laut). Saat ini mayoritas penduduk Alor adalah penganut agama Kristen (Katolik dan Protestan), sementara sisanya adalah pemeluk agama Islam, Budha dan Hindu.

Luas wilayah yang dimiliki adalah 2.864,64 Km2. Kabupaten Alor merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 20 pulau. Sembilan pulau yang telah dihuni penduduk, yakni : Pulau Alor, Pulau Pantar, Pulau Pura, Pulau Tereweng, Pulau Ternate, Kepa, Pulau Buaya, Pulau Kangge dan Pulau Kura. 11 pulau lainnya tidak berpenghuni, masing-masing Pulau Sikka, Pulau Kapas, Pulau Batang, Pulau Lapang, Pulau Rusa, Pulau Kambing, Pulau Watu Manu, Batu Bawa, Pulau Batu Ille, Pulau Ikan Ruing dan Pulau Nubu.

Jenis tanah di Kabupaten Alor temasuk Vulkanik muda sehingga kaya unsur hara dengan struktur tanah yang gembur dan subur. Solum tanah sedang sampai dalam, sehingga tanah lebih stabil dengan kemampuan menahan air tinggi dan dapat diusahakan berbagai jenis tanaman. Kondisi geografi Kabupaten Alor berkonfigurasi bergunung-gunung dan memberikan variasi iklim yang berbeda dan sangat menguntungkan bagi daerah dan rakyat dalam pengembangan tanaman produksi.

1. Pantai Lingal

Sumber Foto Dari https://travel.detik.com/Kurnia

Ada banyak pantai yang bisa dikunjungi di Alor. Salah satu yang begitu cantik dan tak boleh dilewatkan adalah Pantai Ling’al. Pemandangannya juara!

Alor di Nusa Tenggara Timur terkenal dengan wisata baharinya. Aneka pantai yang begitu indah bisa ditemukan di Alor, termasuk Pantai Ling’al. Pantai yang satu ini dijamin bikin traveler betah berlama-lama karena memang menyajikan panorama yang memanjakan mata.

Pasirnya putih dan airnya begitu jernih. Dalam perjalanan ke sana, wisatawan disuguhkan pemandangan perbukitan hijau yang indah di sepanjang pesisir Alor. Perairan di dekat dermaga yang tampak tenang ditambah angin sepoi-sepoi, membuat perjalanan begitu menyenangkan dan terasa singkat.

Setelah sekitar 1,5 jam berlayar Pantai Ling’al pun terlihat. Perahu ditambatkan, detikTravel beserta rombongan segera turun dan berjalan menuju hamparan pasir pantai yang putih bersih. Perairan di sekitar juga begitu jernih.

Sekadar duduk santai di atas hamparan pasir, atau main air di tepian rasanya menyenangkan. Kalau ingin berteduh di gua pun bisa. Ada gua yang asyik buat berteduh di tepi pantai. Nah, jika traveler penasaran ingin melihat keindahan Pantai Ling’al dari atas, bisa naik ke atas bukit. Ada perbukitan hijau di tepi pantai yang bisa didaki. Tinggi bukit sekitar 30 meter.

Sumber Foto dari http://minutespost.com

Jalan menuju ke puncak bukit memang belum ada yang tertata. Jadi masih berupa rerumputan dan pepohonan. Traveler harus berhati-hati ketika menanjak ke atas. Setelah tiba di atas, segala rasa lelah setelah mendaki akan tergantikan dengan kekaguman terhadap pemandangan yang tersaji. Pantai Ling’al yang berpasir putih itu tampak melengkung dengan perbukitan di kanan dan kirinya.

Puncak bukit ini menjadi view point yang paling oke, sekaligus tempat yang asyik buat foto-foto dari ketinggian. Lokasi pantai juga masih sepi, sehingga wisatawan bisa foto-foto dengan leluasa.

Menyewa perahu ke Pantai Ling’al dari dermaga di Desa Alor Kecil biayanya sekitar Rp 700 ribu. Tapi bisa dipakai seharian dan muatannya lebih dari 10 orang. Kalau tidak ingin sewa, bisa naik perahu yang terjadwal seminggu sekali berangkat ke Pantai Ling’al dengan ongkos yang lebih murah.

Traveler yang ingin menginap di pantai juga bisa. Warga setempat ada yang menyewakan tenda. Tapi jika tidak ingin di tenda, boleh saja menginap di rumah warga setempat.

2. Desa Takpala

sumber foto dari https://www.kompasiana.com/

Suara gemerincing gelang kaki terdengar dari hentakan kaki yang dihujamkan ke tanah oleh wanita-wanita suku Abui. Sementara itu,  syair-syair lagu menggema dilantunkan ke langit oleh sekumpulan lekaki pejuang yang beratraksi sembari mengangkat senjata dan perisai mereka. Sesekali gerak dan suara teriakan terhenti sebagai isyarat agar tamu yang datang mengikuti secara perlahan. Ada 21 anak tangga yang dipinjak untuk mulai memasuki sebuah kampung yang berusia sangat tua ini, setelah itu bersiaplah merasakan langsung aroma budaya pesta perayaan dan persahabatan melalui tari lego-lego yang menawan di Desa Takpala. Desa Takpala adalah sebuah kampung tradisional di atas sebuah bukit namun sekaligus tidak begitu jauh dari pesisir pantai. Lokasinya berada di Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor. Sebagai kampung tradisional, Takpala memiliki belasan rumah adat berbentuk limas beratap ilalang yang tertata cukup baik. Kampung adat ini kiranya patut masuk dalam daftar agenda kunjungan Anda selama berada di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. 

Desa Takpala mencuat dalam daftar kunjungan wisatawan asal Eropa setelah seorang turis warga Belanda bernama Ferry memamerkan foto-foto warga kampung ini tahun 1973. Ia mengambil foto warga Kampung Takpala untuk kalender dan mempromosikan bahwa di Pulau Alor ada kampung primitif. Sejak saat itu Desa Takpala dikenal orang-orang Eropa dan turis pun berdatangan ke kampung ini. Selain itu, tahun 1980 Kampung Takpala juga sempat menjadi juara 2 tingkat Nasional untuk kategori desa paling tradisional. Sejak 1983 Kampung Takpala ditetapkan sebagai salah satu tujuan wisata di Pulau Alor oleh Dinas Pariwisata Alor. Kata takpala sendiri berasal kata “tak” artinya ada batasnya dan kata “pala” artinya kayu. Takpala diartikan sebagai kayu pembatas. Ada juga yang memberi definisi takpala sebagai kayu pemukul. Suku Abui sendiri yang menghuni kampung ini adalah suku terbesar yang mendiami Pulau Alor. Mereka kadang biasa disebut juga Tak Abui (artinya gunung besar). Meski warga penduduk yang mendiami kampung ini hanya puluhan tetapi sebenarnya keturunan penduduk kampung ini telah tersebar dan telah mencapai ribuan orang. 

Sumber foto dari https://www.tripadvisor.co.id/

Masyarakat suku Abui dikenal begitu bersahaja dan sangat ramah terhadap pendatang. Keseharian suku Abui di Desa Takpala ini adalah memanfaatkan hasil alam terutama hutan dengan berladang atau berburu. Otomatis saat siang hari kampung ini terlihat sepi karena sebagian dari mereka akan pergi mencari makanan ke hutan sekaligus berburu. Hasilnya selain dikonsumsi sehari-hari juga dijual di pasar. Makanan asli suku Abui umumnya adalah singkong dan jagung. Nasi kadang mereka konsumsi tetapi tetap dipadupadankan dengan singkong dan jagung (disebut katemak). Kampung Takpala awalnya mendiami pedalaman Gunung Alor tetapi kemudian dipindahkan ke bagian bawah. Alasan pemindahan ini dahulu terkait kewajiban membayar pajak kepada Raja Alor (balsem). Utusan Raja Alor yang hendak memungut pajak kesulitan menjangkau kampung tersebut sehingga akhirnya dipindahkan ke bagian bawah. Adalah Bapak (alm) Piter Kafilkae yang menghibahkan tanahnya untuk dijadikan lokasi Kampung Takpala seperti sekarang ini sejak tahun 1940-an. Rumah adat Suku Abui di Kampung Takpala begitu sederhana namun memikat. Rumah adat ini dinamakan lopo.

Bangunannya berbahan kayu berbentuk limas dan beratap ilalang terbuka seperti gazebo dengan dinding setinggi 90 cm dari bambu. Rumah adat ini disangga 6 tiang dari kayu merah dan mampu bertahan cukup lama. Ada dua jenis rumah lopo, yaitu kolwat dan kanuruat. Rumah kolwat terbuka untuk umum, siapa pun boleh masuk termasuk anak-anak dan perempuan, sedangkan kanuruat hanya boleh dimasuki kalangan tertentu. Selain lopo ada juga fala foka yaitu rumah adat bertingkat 4 yang dihuni hingga 13 kepala keluarga. Rumah adat bertingkat ini lantai 1 digunakan untuk berkumpul dan menerima tamu, lantai 2 untuk ruang tidur dan masak, lantai 3 tempat menyimpan bahan pangan seperti jagung dan hasil bumi lainnya, dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang adat seperti moko, gong, senjata, dan lainnya. Warga Takpala mengklaim bahwa merekalah yang pertama kali membuat rumah tradisional bertingkat empat di dunia. 

Belanja Di desa ini ada warga yang menjual beragam benda kerajinan. Anda dapat memiliki tas fulak yang terbuat dari anyaman bambu dan biasa digunakan untuk membawa sirih pinang atau tempat menyimpan uang. Tas ini juga pasti dikenakan saat menari lego-lego. Saat para pria berburu dan berkebun ke hutan maka para wanita suku Abui umumnya mengisi waktu mereka dengan menenun. Tenunannya begitu cantik dan beragam dengan motif bunga, kepiting, kura-kura, serta ikan. Warna tenun ikat ini pun beragam ada yang hitam, merah, kuning, dan biru. Anda dapat membeli salah satunya dari berbagai ukuran yang tersedia untuk selendang, sarung atau kain lebar seperti seprei. Harga tenun ikat ini mulai dari Rp 150.000 hingga jutaan rupiah.

3. Situs Al-Qur”an Tua

Sumber foto dari https://travel.detik.com/

Ada yang unik di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah Al Quran yang terbuat dari bahan kulit kayu berusia ratusan tahun masih tersimpan rapi di rumah salah satu warga di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut. Kitab suci agama Islam dari kulit kayu tersebut berisikan ayat-ayat Al Quran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak kayu, tersimpan di rumah Nurdin Gogo (32) yang tak lain adalah turunan dari Sultan Iang Gogo asal Ternate, Maluku.

Sumber foto dari http://www.lintasntt.com/kisah-alquran-kulit-kayu-berusia-500-tahun-di-alor/

Rumah miilik Nurdin ini telah dijadikan obyek situs Al Quran tua. Karena memiliki keunikan tersendiri, Al Quran tersebut menjadi daya tarik wisata rohani bagi warga sekitar maupun wisatawan luar NTT, sehingga lokasi penyimpanan kitab suci itu ramai dikunjungi orang.

Situs Al Quran Tua di Alor menyimpan Al Quran kulit kayu peninggalan Kesultanan Ternate. Selain melihat Al Quran, traveler juga bisa beribadah di masjid tertua di Alor.

WordPress Image Lightbox