Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Dengan luas wilayah mencapai kurang lebih 1.284,94 km², tempat wisata di Belu ada beraneka ragam. Mulai dari wisata alam, destinasi budaya, dan beberapa tempat bersejarah.

Bagian dari Provinsi NTT ini terdiri dari 12 kecamatan, 12 kelurahan dan 96 desa, dimana 30 desa diantaranya berada di 8 wilayah kecamatan yang berbatasan dengan Timor Leste.

Beberapa destinasi wisata bahkan berada di sekitar wilayah perbatasan, sehingga tidak mengherankan bila warga Timor Leste pun sering menyambangi objek wisata di Belu.

Termasuk di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Monta’ain yang sering dijadikan spot foto selfie kekinian.

Ragam objek wisata Belu memberikan banyak pilihan untuk mengisi waktu liburan di NTT. Berikut rekomendasi tempat wisata di Kabupaten Belu NTT yang sedang hits dikunjungi:

1. Lembah Fulan Fehan

Sumber foto dari tourism.nttprov.go.id

Fulan Fehan Merupakan sebuah lembah di kaki Gunung Lakaan dengan sabana yang sangat luas. Lembah ini berada di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sekitar 26 Km dari Atambua, ibukota Kabupaten Belu. Potensi yang dimiliki Lembah Fulan Fehan adalah banyak terdapat kuda yang bebas berkeliaran, pohon kaktus yang tumbuh subur dan hamparan padang sabana yang luasnya tak terjangkau oleh mata. 

Selain itu tak jauh dari lembah ini ada beberapa objek bersejarah lainnya yang menjadi satu kesatuan paket yang mendukung pesona dan daya tarik objek wisata ini, seperti Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh di puncak Bukit Makes, di sudut lainnya berdiri Gunung Lakaan yang menjulang tinggi, Bukit Batu Maudemu di Desa Maudemu, yang di puncaknya terdapat beberpa peninggalan bersejarah berupa desa dan kuburan-kuburan bangsa Melus. Di ujung Timur lembah ini ada situs bersejarah Kikit Gewen yang Berupa kuburan tua yang sangat sakral, juga dua air terjun berair jernih dan segar yakni Air Terjun Sihata Mauhale di antara Desa Aitoun dan Desa serta Air Terjun Lesu Til di Weluli, Ibu Kota Kecamatan Lamaknen.

sumber foto dari tourism.nttprov.go.id

Untuk mencapai tempat ini ada dua alternatif yaitu melalui Desa Dirun dan Desa Maudemu. Dari dua desa ini pengunjung bisa menuju Fulan Fehan dengan berjalan kaki atau hiking yang jalurnya sementara disiapkan. Pengembangan objek wisata ini masih dalam tahap perencanaan tetapi diharapkan dalam waktu dekat sudah bisa dimulai proses pembangunannya. Pengembangan objek wisata ini ditujukan dapat menarik minat masyarakat umum dan kelompok pencinta alam khususnya. Dari tempat ini kita dapat mendaki Gunung Lakaan yang berada di bagian barat dan rangkaian pegunungan yang termasuk wilayah Timor Leste di bagian timur dan selatan. Dengan keindahan alamnya yang unik, tempat ini mempunyai potensi yang besar untuk diproyeksikan sebagai salah satu objek wisata alam unggulan. Sekarang Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belu mulai gencar mempromosikannya ke dunia luar.

2. Benteng Ranu Hitu

Sumber foto dari https://jalanwisata.id/keindahan-benteng-ranu-hitu-belu/

NAMANYA benteng Makes. Letaknya persis di atas bukit yang ada di bawah kaki gunung Lakaan di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Benteng berlapis tujuh ini bisa dijangkau dari Kota Atambua sekitar dua hingga tiga jam ini. Dulunya, benteng Makes ini adalah tempat pertahanan para pejuang lokal saat berperang melawan penjajah Portugis. Kini, benteng Makes digunakan warga sebagai tempat ritual untuk menghormati leluhur mereka.

Menembus pusat utama benteng ini tak semudah yang dibayangkan. Pengunjung terlebih dulu harus melewati tujuh lapis pagar batu karang berbentuk lingkaran. Halaman benteng yang bisa mengisi 500 sampai 1000 orang ini juga dihiasi meriam bekas peninggalan penjajah Portugis. Ada juga batu lonjong yang ada di tengah lingkaran benteng, konon dulunya sebagai tempat menyembelih kepala musuh dan untuk menyimpan kepala musuh usai berperang.

Secara kasat mata keberadaan benteng Makes bisa berdiri di atas bukit sangat tinggi, juga batu karang sebagai bahan utama penyusun dinding di sekeliling benteng, sulit dipercaya.

sumber foto dari http://kepulauanntt.blogspot.com

Tak heran, keberadaan benteng Makes yang berusia ribuan tahun ini diyakini masyarakat Lamaknen dulunya sebagai karya tangan roh halus dan penjaga gunung Lakaan. Mereka semakin yakin, karena saat berada di benteng ini pengunjung bisa merasakan aura mistis dari kuburan tua bangsa Melus yang ada di sana. Itu sebabnya pengunjung wajib mengikuti arahan dari gaet atau tetua adat yang mengantarkan pengunjung berkunjung ke benteng Makes. Tokoh adat setempat mengisahkan bahwa masyarakat sekitar benteng sangat memercayai bahwa roh nenek moyang mereka semua berkumpul di sekitar benteng Makes dan gunung Lakaan.

Berwisata ke tempat ini pengunjung bisa pula singgah ke benteng Ranu Hitu dan melihat langsung perbatasan negara Timor leste dari jarak dekat. Nikmati juga suasana kampung menuju benteng dengan udara segar gunung Lakaan, hamparan luas padang savana berhias kaktus, kuda-kuda bebas berkeliaran di bukit Fulan Fehan, dan menikmati air terjun Mau Halek.

Jangan lupa buah tangan berupa kain adat khas suku Marae dengan harga sangat terjangkau dengan ukuran dan motif berbeda-beda. Tak rugi bukan berkunjung ke Belu , NTT?

3. Kampung Kewar Lamaknen

Sumber foto dari http://radarmalaka.com/

Kampung ini merupakan salah satu desa yang terletak di Desa Kewar, Lamaknen. Rumah Raja berbentuk rumah panggung dan beratap alang – alang hingga ke tanah. Secara horizontal pada ruang berintikan pada ruang tengah yang berada diantara 2 tiang agung (Nulai Mone( Tiang laki – laki) dan Nulai Pana( Tiang Perempuan)). Seluruh tiang dan dinding rumah raja dihiasi dengan ragam hias berbagai bentuk yang diukir tidak terputus. Pada bagian depan rumah raja terdapat pelataran terbuka berupa Leo Rato tempat duduk raja, 2 susunan batu temu gelang bahasa lokalnya Mot Pana dan Mot Mone.

Mot Pana berfungsi sebagai kuburan sedangkan Mot Mone berfungsi sebagai tempat duduk para utusan suku pada saat melaksanakan upacara adat. Pada sisi kiri dan kanan rumah raja terletak 15 Rumah Suku. Desa kewar, Kewar mempunyai nama Gewal, di bagi menjadi 2 kata Ge nama buah dan wal artinya kenyang. Namun sesuai dengan perkembangan Zaman Gewal di beri nama Kewar.

Sumber foto dari https://jalanwisata.id/kampung-adat-kewar-lamaknen/

Kampung adat kewar mempunyai Reu Loro (Pemimpin adat disalah satu kecamatan), Nai (orang-orang Tes gatal dan rumah adat Tes gatal) dan dibawah Tes gatal ada Loe gatal lolo. Kampung adat Kewar memiliki atap yang mempunyai tanda khusus yang dengan bahasa setempat di beri nama Reu Maten Kes Adapun susunannya: Loro (pemimpin), Nai, Tamong, Rato, Kabu, Makleat(Khusus mengontrol kebun adat).

Nah, di kampung adat kewar ini kita bisa menikmati indahnya pemandangan gunung di sore hari, kampung adat kewar juga berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste. Selain pemandangan yang indah, di kampung adat kewar ini kalian juga bisa menikmati buah-buahan (jambu, jeruk nipis, jeruk lemon, jeruk bali) yang masih segar karena buah-buahan disini dipetik langsung dari pohonnya.

WordPress Image Lightbox