Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Buru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku, Indonesia. Ibukota kabupaten yang berada di Pulau Buru ini terletak di Namlea. Jumlah penduduk Kabupaten Buru pada 2017 tercatat sebanyak 132.100 jiwa terdiri dari 67.815 laki-laki dan 64.285 perempuan, mengalami pertumbuhan sebesar 1,38% dari tahun sebelumnya. Kepadatan penduduk Kabupaten Buru sebesar 24 jiwa/km² dengan Kecamatan Waeapo merupakan daerah terpadat penduduknya dengan 124 jiwa/km² dan Kecamatan Fena Leisela merupakan daerah terjarang penduduknya dengan 4 jiwa/km².

Tak banyak yang tahu jika Pulau Buru, Maluku merupakan penghasil minyak kayu putih dengan kualitas terbaik. Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakatnya, hingga diabadikan dalam sebuah tarian yang menarik.

Tak hanya itu saja, keindahan alam di sana juga sangat menggoda untuk dijelajahi. Seperti keindahan Danau Rana sebagai danau terbesar yang terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

Pesona Tempat Wisata di Kabupaten Buru Selatan tak kalah menawan dengan kabupaten lain di Provinsi Maluku. Obyek wisata di Kabupaten Buru Selatan memang belum begitu dikenal secara luas, namun justru itu pula kelebihan yang tersembunyi, yakni tantangan bagi para petualang untuk menikmati wisata alam yang masih perawan, serta wisata budaya nya yang unik.

Kabupaten Buru Selatan merupakan pemekaran dari Kabupaten Buru, menyimpan potensi wisata alam khususnya wisata bahari, dan wisata sejarah. Yuk kita lihat ada Obyek Wisata apa saja di Kabupaten Buru.

1. Danau Rana

sumber foto dari https://ksmtour.com/

Danau Rana adalah sebuah danau di Pulau Buru, Provinsi Maluku. Objek wisata ini berada tepat dipedalaman Pulau Buru ± 63 km km dan berada pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Danau rana merupakan danau terbesar di Provinsi Maluku, berada dalam wilayah Kecamatan Air Buaya sangat cocok bagi wasatawan yang suka berpetualang dialam bebas.

 Untuk mencapainya tersedia dua jalur pilihan, pertama perjalanan melalui jalur barat melalui Desa Wamlana Kecamatan Air Buaya, desa yang terletak ± 80 km dari pusat kota Namlea ini bisa anda capai dengan mobil selama 1,5 jam. Selanjutnya dengan menumpang mobil perusahan kayu PT. Gema Hutan Lestari anda memulai pertualangan ke Danau Rana sepanjang ± 43 km.

Dalam perjalanan anda disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah, beraneka macam jenis tumbuhan dapat dijumpai disini, anda akan melewati kawasan hutan lindung juga bisa menikmati keindahan desa – desa di pesisir barat pulau buru dari atas gunung secara langsung, anda akan mampir sebentar di cam Waldea tepat di km 21 setelah itu perjalanana dilanjutkan sampai pada km. 40. 

sumber foto dari http://4.bp.blogspot.com/

Dari sini anda akan berpetualang berjalan kaki sepanjang ± 23 km untuk sampai di Pusat Danau Rana, sepanjang perjalanan anda akan melewati beberapa desa yang dihuni oleh masyarakat suku asli Pulau Buru disini anda akan disuguhkan dengan tarian ”sawat” sebagai tanda ucapan selamat datang bagi para tamu. Jalur kedua melewati desa Tifu Kecamatan Leksula. Desa yang terletak di selatan pusat kota Namlea ini hanya dapat ditempuh dengan perjalanan laut menggunakan speedboat dengan jarak tempuh ± 5 jam, tiba di Desa Tifu dengan menggunakan mobil truck anda memulai petualangan ke Danau Rana sepanjang 40 km samapai di desa Waelo, setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pusat Danau Rana ± 6 jam, sama seperti jalur barat disepanjang jalan juga melewati perkampungan masyarakat suku asli Pulau Buru.

2. Masjid Agung Al Buruuj

sumber foto dari https://situsbudaya.id/

Pulau Buru di Provinsi Maluku dikenal dalam sejarah nasional kita sebagai salah satu pulau tempat pembuangan para narapidana politik yang terlibat dengan G 30 S/PKI. Pulau yang dulu terkesan begitu terpencil dari peradaban, terkonotasi dengan daerah yang menyeramkan, kini dengan pasti mengubah wajah dan kesan seramnya. Di Pulau ini kini berdiri sebuah masjid Agung begitu megah dengan nama Masjid Agung Al-Buruj. Emas, kini menjadi bahan tambang primadona di pulau ini dengan segala kelebihan dan kekurangan dari proses pertambangannya yang kini mulai masiv.

Masjid Al-Buruj merupakan masjid agung sekaligus merupakan Islamic Center bagi Kabupaten Buru, merupakan bangunan masjid yang begitu megah. Dan bagian paling menarik dari masjid ini adalah dana pembangunannya yang berasal dari urunan masyarakat muslim disana, fakta yang cukup mencengangkan tentunya. Dana yang mengalir masuk ke masjid ini setiap hari Jum’at juga lumayan besar, belum termasuk dana zakat/infaq/shadaqah dan lainnya, dana tersebut digunakan untuk membiayai operasional masjid megah ini.

Hal kedua yang tak kalah menarik dari masjid ini adalah penamaannya dengan nama “Al-Buruj” yang merupakan nama surah ke-85 Kitab Suci Al-Qur’an, yang penyebutannya hampir sama dengan nama pulau Buru. Al-Buruj berarti gugusan bintang, sama dengan Pulau Buru yang kini mulai berkilau menghapus kelamnya masa lalu sejarah pulau itu.

sumber foto dari https://singgahkemasjid.blogspot.com

Bangunan masjid ini terdiri dari dua bagian utama yakni bangunan masjid ditambah dengan area pelataran tengah yang dikelilingi oleh selasar. Bangunan utama masjid berdenah segi empat dengan satu kubah utama di atap masjid diapit dengan empat kubah lebih kecil dipuncak bentuk Menara yang tak terlalu tinggi masing masing empat penjuru atapnya.

Pelataran tengah berada di sisi timur masjid, seluruh permukaan lantai dibagian ini ditutup dengan keramik lantai yang warnanya mirip dengan keramik lantai area pelataran masjid Istiqlal di Jakarta. Dari area ini pengunjung dapat melihat kemegahan masjid ini dengan kubah utamanya yang begitu menonjol di atap masjid.

Masjid Agung Al-Buruj diresmikan pada tanggal 2 Februari 2009, berdiri di atas lahan seluas 25 Hektar dengan luas bangunan mencapai 2867 meter persegi dan dapat menampung hingga 8500 jemaah sekaligus. Di komplek masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas sekretariat, baik untuk yayasan internal masjid maupun organisasi keagamaan kabupaten Buru.

3. Benteng VOC, Desa Kayeli

sumber foto dari https://blue.kumparan.com/

Benteng VOC di Negeri Kayeli, Kecamatan Waepo, Pulau Buru, Maluku merupakan salah satu cagar budaya yang berada di pulau penghasil rempah tersebut. Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menyempatkan waktu berkunjung ke salah satu benteng peninggalan sejarah pada masa VOC tersebut, bersama Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku, Rusli Manorek dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Buru, Abdul Rahim Umasugi.

Untuk menuju ke lokasi benteng tak bernama tersebut harus ditempuh menggunakan kapal yang menyeberangi Teluk Namlea dengan jarak tempuh selama 20 menit, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 meter dari tempat sandaran kapal. Benteng yang dibangun VOC tahun 1785 ini menandai kejaan Kayeli sebagai pusat pemerintahan Belanda di Pulau Buru pada masa administrasi Provinsi Amboina dengan Gubernurnya Bernadus Van Pleuren. Benteng ini masih berdiri meskipun nampak kurang terawat, semak belukar tumbuh di sepanjang lahan benteng VOC ini. Pada awal abad 19 musibah banjir besar yang meluap di sungai Waepo juga menyebabkan kehancuran negeri Kayeli termasuk benteng kejayaan VOC ini. Terlihat dari beberapa bangunan benteng yang hanya tinggal puing. Bahkan sumur yang terdapat di dalam bangunan benteng voc ini pun sudah tertutup oleh lumpur dan tanah.

sumber foto dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Kondisi benteng yang kurang terawat ini perlu mendapat perhatian serius pemerintah setempat dan instansi terkait. Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berharap tidak hanya pemerintah saja namun masyarakat dimohon dapat turut serta membantu pemerintah dalam memfungsikan kembali bangunan yang bernilai historis ini. Benteng ini tidak hanya bernilai historis namun juga dapat dijadikan salah satu objek wisata sejarah menarik bagi wisatawan lokal dan luar Pulau Buru.

WordPress Image Lightbox