Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Halmahera Barat berada di Provinsi Maluku Utara, yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya yang melimpah, memiliki budaya yang unik, dan keindahan alamnya baik di darat dan laut yang telah membuat para wisatawan nasional dan mancanegara takjub akan tempat ini.

Sejarah mencatat Kesultanan Jailolo di Halmahera berjaya menguasai Maluku Utara pada beberapa abad yang lalu. Namun, Kesultanan Jailolo akhirnya ambruk dan dihancurkan Kesultanan Ternate pada 1551. Penaklukan Jailolo oleh Ternate mengawali sejarah panjang persaingan Ternate dan Tidore yang menautkan sejarah sejumlah kawasan di Indonesia Timur.

Jailolo sering disebut ‘Gilolo’ dalam literatur Barat. Istilah ‘Gilolo’ merupakan suatu suku bangsa merujuk pada sebuah kerajaan tua di Pulau Halmahera Indonesia. Hingga saat ini tak ada satu tempat pun di dunia yang dahulu disebut

Gilolo selain Pulau Halmahera. “A New Voyage Round The World” (1697) yang ditulis William Dampier memuat gambar seseorang dengan tubuh dipenuhi tato dan merupakan penduduk asli dari Jailolo. William Dampier yang telah menjelajah Halmahera kemudian pulang ke Inggris dengan membawa serta Pangeran Gilolo (Painted Prince) yang bertato sekujur tubuhnya ke London.

Dampier membawanya ke Eropa karena tertarik gambar di tubuhnya. Pangeran ini dijadikan budaknya hingga ia meninggal di Oxford karena penyakit cacar. Pangeran Gilolo ini kemudian menghidupkan kembali seni tato di Inggris, bahkan sekarang menjadi ikon penggemar tato di dunia.

Halmahera Barat memiliki banyak teluk yang dikelilingi dengan pemandangan yang luar biasa, alamnya yang asri memberikan daya tarik tinggi untuk dikunjungi. Salah satu teluk yang terkenal di sana adalah Teluk Jailolo. Jailolo merupakan ibu kota Halmahera Barat. Nah, wisata menarik apa saja yang ada di Kabupaten Halmahera Barat ini, berikut sedikit ulasannya.

1. Air Terjun Kahatola

sumber foto dari https://4.bp.blogspot.com/

ADA keuntungan tersendiri saat Anda mengunjungi tempat wisata yang belum banyak dikunjungi orang. Anda masih bisa merasakan keindahan yang lebih banyak di tempat tersebut . Lingkungan tempat wisata yang masih bersih pun bisa membuat Anda lebih nyaman.

Contohnya di Halmahera Berat, ada sebuah tempat wisata yang belum banyak dikunjungi banyak orang. Selain karena belum banyak yang tahu, letaknya yang sangat jauh membuat banyak orang menyerah untuk datang ke sana. Tempat tersebut adalah Air Terjun Kahatola. Air terjun ini terletak di Pulau Kahatola, Loloda, Halmahera Barat, Maluku Utara.

Untuk mencapai tempat ini, pengunjung harus menyewa sebuah kapal cepat dari pelabuhan Jailolo. Waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, tapi apabila ada gelombang besar bisa menjadi 4 jam. Sebelum menyaksikan keindahan air terjun, selama perjalanan di atas kapal pengunjung akan melihat pemandangan pantai yang cukup indah.

sumber foto dari https://www.pegipegi.com/

Sesampainya di air terjun, pengunjung akan melihat kucuran air pada batu. Air Terjun Kahatola memang berbeda dengan air terjun lainnya. Menurut cerita yang beredar, air pada batu yang mengucur tersebut merupakan rembesan dari air tanah, tetesan embun, dan air hujan yang terkumpul di sebuah cekungan di atas tebing. Air tersebut kemudian jatuh sebagai air terjun yang mengucur sepanjang tahun. Akan tetapi, debit air menjadi lebih sedikit saat musim panas. Biasanya hanya mengucur di bagian tengah batu. Berbeda dengan saat musim hujan di mana air mengucur lebih deras.

Selain keindahan air terjun, pengunjung akan dibuat kagum dengan tebing batu yang cukup tinggi dan terjal. Tebing batu tersebut mengelilingi pulau dan terdapat beberapa pepohonan di kanan dan kirinya. Tak sampai di situ, air yang mengucur dari batu yang cukup terjal langsung masuk ke laut. Untuk itulah pengunjung tidak disarankan langsung menyebur ketika sampai di air terjun.

Pengunjung cukup menikmati keindahan air terjun di atas kapal. Tapi jika tetap ingin mencoba menyebur, pengunjung harus menggunakan pelampung karena kedalaman air laut mencapai 4 meter. Itupun tidak sembarang pengunjung, harus yang bisa berenang. Sebab, salah-salah bisa tenggelam dan terbawa hingga ke tengah laut.

2. Taman Nasional Aketajawe – Mengamati Burung Bidadari

sumber foto dari https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata adalah taman nasional yang terletak di Halmahera, Maluku Utara, Indonesia. Taman ini menjadi tempat bermukim sekitar 106 spesies burung termasuk 25 spesies burung endemik.

Salah satu spesies burung endemik yang langka dan menjadi ikon dari Halmahera adalah Burung Bidadari. Burung Bidadari Halmahera yang memiliki nama latin Semioptera Wallacii adalah jenis burung yang masih dalam satu keluarga dengan cendrawasi namun memiliki ukuran yang lebih kecil.

Burung Bidadari berwarna coklat kehijauan zaitun. Burung jantan mempunyai mahkota warna ungu dan ungu-pucat yang mengkilat serta warna hijau zamrud pada dadanya. Sementara yang betina berukuran lebih kecil dengan warna cokelat zaitun dan mempunyai ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan.

sumber foto dari http://www.lampost.co/

Kawasan Pengamatan Burung Bidadari dapat ditemukan di Kali Batu Putih, Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Lokasi ini tidak jauh dari Jailolo, hanya sekitar 20 menit dengan kendaraan. Di dalam kawasan taman nasional juga dapat dijumpai jenis-jenis burung lain yang cukup menarik. Selain bidadari halmahera (Semioptera wallacii), Anda juga bisa melihat kakatua putih (Cacatua alba), kasturi ternate (Lorius garrulus), paok halmahera (Pitta maxima), julang irian (Aceros plicatus), gosong kelam (Megapodius freycinet), beragam pergam (Ducula spp.) serta walik (Ptilinopus spp.), dan sebagainya.

Taman Nasional Aketajawe-Lolobataini juga menjadi tempat perlindungan burung-burung paling terancam dan langka secara global menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), yaitu mandar gendang, kakatua putih, kasturi ternate, cekakak murung, dan cikukua hitam (Philemon fuscicapillus).

Selain kekayaan ekosistem dan jenis, kawasan TN Aketajawe-Lolobata juga menyimpan banyak keragaman genetis berupa sub-jenis endemik Pulau Halmahera.

3. Desa Bobanehena – Kampung Menghafal Al-Qur’an

sumber foto dari https://jolygram.com

Desiran ombak menyapu pasir pantai. Sesekali menghempas deretan karang di tepian. Di salah satu sudut dermaga, beberapa bocah lelaki dan perempuan tampak asyik duduk berhadap-hadapan.

Bukan sedang bermain. Mereka tengah sibuk membolak-balikkan lembar demi lembar halaman Alquran. Sementara Lantunan ayat-ayat terdengar lantang dan merdu dari mulut-mulut mungil itu. Tahfiz menjadi aktivitas yang rutin dilakukan anak-anak Desa Bobanehena sejak akhir 2015 silam. Setelah desa ini dikembangkan sebagai Kampung Quran.

Pasca mengemban predikat Kampung Quran, citra Desa Bobanehena berubah 180 derajat. Desa yang terletak di Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat ini dulunya dikenal jauh dari kata Islami. Bahkan bagi masyarakatnya, mungkin agama hanya sebuah ” simbol formalitas” yang tercantum di KTP. Tak peduli Muslim atau non-Muslim, mayoritas warga Bobanehena dulunya dikenal memiliki citra buruk.

sumber foto dari https://www.wego.co.id/

Hari-hari mereka kerap diisi dengan mabuk-mabukkan. Jangankan hafal Quran, mengaji saja mereka tak bisa. Bahkan sholat sebagai ibadah wajib umat muslim, nyaris tak pernah dikerjakan warga Bobanehena.

Sampai akhirnya pada November 2015, sebuah bencana dahsyat melanda desa ini. Gempa berkekuatan 4,5 skala richter meluluhlantakkan Bobanehena. Lebih dari 300 rumah hancur, nyaris rata dengan tanah.

Musibah itu jadi pukulan telak bagi masyarakat Bobanehena. Harta benda yang selama ini dibangga-banggakan, lenyap seketika ditelan gempa. Dan kini, desa kecil di Maluku Utara itu sudah tak lagi dikenal sebagai daerah pemabuk. Tapi identik dengan santri-santri penghafal Alqurannya. Kegiatan tahfiz pun bukan lagi sesuatu yang asing bagi anak-anak di desa ini. Bahkan sudah jadi rutinitas. Nyaris tiap waktu senggang mereka isi dengan hafalan Alquran.

Bobanehena adalah satu contoh dari sederet program Kampung Quran yang digawangi PPPA Daarul Quran. Kampung Quran adalah program dakwah yang berbasis pada kawasan terpencil bekas bencana atau daerah yang jauh dari akses peradaban.

Dan program Kampung Quran ini salah satunya meliputi proyek Rumah Tahfiz yang dikembangkan oleh PPPA Daarul Quran bersama Rumah Tahfiz Center (RTC) di seluruh penjuru nusantara. Hingga saat ini, setidaknya sudah ada 806 Rumah Tahfiz yang aktif beroperasi di seluruh pelosok negeri dengan jumlah santri mencapai 19 ribu orang.

Program Rumah Tahfiz didesain dengan beberapa metode khusus untuk memudahkan para santri menghafal Alquran. Tak cuma metodenya, PPPA Daarul Quran pun memproduksi Alquran hafalan khusus yang diperuntukkan bagi para santri Rumah Tahfiz. Alquran khusus itu diberikan hanya kepada santri yang punya hafalan paling sedikit 1 juz. Hal ini bertujuan agar para santri terdorong terus meningkatkan hafalannya.

WordPress Image Lightbox