Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Halmahera Selatan adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku Utara, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Labuha. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 8.892 km² dan berpenduduk sebanyak 147.919 jiwa (2000). Kabupaten Halmahera Selatan merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Maluku Utara atau saat ini menjadi Kabupaten Halmahera Barat berdasarkan Undang-undang No. 1 tahun 2003 tentang pemekaran wilayah Kabupaten Maluku Utara. Kabupaten Halmahera Selatan pada awal pembentukannya memiliki 9 kecamatan namun kini menjadi 30 kecamatan.

Wisata Halmahera Selatan tidak terlepas dari Sejarah Kesultanan Maluku Utara. Sehingga masih terdapat benda bersejarah seperti Keraton, Mesjid, Mahkota Sultan, Benteng pertahanan peninggalan bangsa Portugis dan Belanda.

Selain itu, Halmahera Selatan juga terkenal dengan Wisata Alam dan Baharinya. Beragam Flora dan Fauna juga mewarnai Kabupaten Halmahera Selatan di Provinsi Maluku Utara.

Kabupaten Halmahera Selatan mencakup Pulau Bacan, Pulau Halmahera di bagian Selatan (Gane), Pulau Kasiruta, Pulau Kayoa, Kepulauan Botanglomang, Kepulauan Joronga, Pulau Makian, Pulau Mandioli, Pulau Obi, dan sebagainya. Halmahera Selatan terdapat banyak jenis wisata alam, sejarah, dan bahari yang membuat Anda ingin berlibur lama di tempat ini.

1. Kepulauan Widi

Sumber foto dari https://kieraha.com/

Selain Pulau Mandeh dan Raja Ampat, di tanah air kembali ditemukan destinasi alam yang membuat tiap mata tercengang. Berlokasi di Desa Gane Luar, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Kepulauan Widi disebut memiliki keindahan dan keunikan yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Bentang pasir putih yang luas, biru air laut jernih, serta terumbu karang yang menghampar dengan biota laut indah di sekitarnya membuat Kepulauan Widi disebut-sebut sebagai New Maldives alias Maladewa baru.

Keindahan Kepulauan Widi memang tak banyak diketahui traveller, sebab untuk mencapai tempat ini pengunjung harus melakukan perjalanan dengan kapal laut dari Pelabuhan Saketa sekitar 5 jam, dilanjutkan dengan menaiki kendaraan roda dua ke Kecamatan Gane Timur selama 3 jam. Tak sampai disitu saja, perjalanan masih dilanjutkan dengan menggunakan speedboad selama 2 jam. Perjalanan yang panjang ini akan ditebus dengan keindahan yang setimpal.

sumber foto dari https://ksmtour.com/

Bening air laut yang mempesona, pasir putih indah membentang dan udara segar tanpa polusi membuat Pulau Widi menjadi tempat yang tepat untuk berenang, snorkeling, diving maupun memancing. Sayangnya, akses yang kurang maksimal membuat pulau indah ini masih jarang dikunjungi wisatawan. Yah, semoga ke depannya pemerintah dan pihak yang terkait bisa mengembangkan potensi daerah ini degan lebih serius. Sebab jika dikelola secara maksimal, bukan tak mungkin pulau ini bisa sepopuler Bali atau Raja Ampat.

Akses ke Kepulauan Widi cukup menantang karena memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai tempat ini. Terdapat beberapa opsi untuk ke tempat ini. 

Jika Anda berada di Kota Ternate, Anda dapat menggunakan kapal laut menuju pelabuhan Saketa, Kecamatan Gane Barat dengan lama perjalanan sekitar 5 jam. Kemudian Anda melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Gane Timur dengan waktu tempuh sekitar 3 jam menggunakan kendaraan roda dua (ojek). Selanjutnya, dari kecamatan Gane Timur menuju Kepulauan Widi, Anda dapat menggunakan speedboat atau longboat, lama perjalanannya sekitar 2 jam.

Jika Anda berada di Pulau Bacan, Anda juga bisa memilih perjalanan ke kecamatan Gane terlebih dahulu setelah itu melanjutkan perjalanan dengan speedboat ke Kepulauan Widi. Untuk akses terbaiknya, Anda bisa berkonsultasi terlebih dahulu di pelabuhan. 

2. Masjid Sultan Bacan

Sumber foto dari http://3.bp.blogspot.com/

Mesjid Sultan Bacan terletak di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Mesjid Sultan Bacan juga merupakan peninggalan sejarah yang berdekatan dengan keraton Sultan Bacan. Mesjid ini dibangun pada tahun 1901 yang dirancang oleh arsitek Jerman, Hoennig von Hendrik pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Sadek. Di belakang mesjid terdapat mata air suci yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan menjadikan daya tarik bagi Anda yang berkunjung di tempat ini. Mesjid Sultan Bacan ini berdekatan dengan Keraton Sultan Bacan, yakni sekitar 100m yang berada di Amasing Kota, Kecamatan Bacan.

Mesjid ini berdiri di atas lahan seluas 6.020 m². Pada kubah limas paling atas terdapat kaligrafi di setiap sisinya. Mesjid ini memiliki 17 pintu masuk. Pada salah satu terasnya, terdapat sebuah bedug bercat hijau yang memiliki diameter 1 m dengan panjang 1,5 m, sedangkan pada bagian belakang masjid terdapat kompleks pemakaman kuno para ulama dari Malaka, keluarga serta kerabat dari Kesultanan Bacan. Masjid Kesultanan Bacan ini tidak dikelilingi pagar, akan tetapi dekat masjid dari tiga arah jalan masuk ke lingkungan masjid tersebut terdapat pintu gapura beratap gua susun sebagai gerbang menuju lingkungan masjid tersebut.

Sumber foto dari http://picture.triptrus.com/

Pada jaman dahulu, mesjid ini tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah, namun aktivitas roda pemerintahan juga di mesjid ini. Sultan dan para Ketua Adat biasanya menggelar pertemuan di teras mesjid untuk membahas masalah Kenegaraan.

3. Keraton Sultan Bacan

Sumber foto dari https://situsbudaya.id

Keraton Sultan Bacan adalah salah satu Wisata Sejarah di Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Keraton ini beratap hijau yang khas kolonial menjadi bangunan terakhir yang ditinggali oleh Sultan Bacan. Salah satu alasan yang menarik wisatawan untuk mengunjungi keraton ini adalah untuk melihat benda bersejarah.

Jika Anda beruntung, maka Anda memiliki kesempatan untuk melihat mahkota Sultan Bacan yang disebut Lakare. Lakare terbuat dari bahan Kain Beludru yang tidak pernah usang, lakare tersebut juga diperindah batu-batu mulia yang asli. Lakare, payung kebesaran dan keris yang bisa Anda lihat saat Sultan Bacan berada di kediamannya. Keraton Sultan Bacan berada di Jalan Oesman Syah, kelurahan Amasing Kota, kecamatan Bacan. 

Sumber foto dari http://cdn2.tstatic.net/

Jika berkunjung ke Keraton Bacan ini, maka anda dapat melihat batu bacan seberat 1,5 ton. Batu tersebut ditaruh di halaman depan komplek Keraton Bima Kesultanan Bacan. Ini merupakan simbol dari tempat tersebut.

WordPress Image Lightbox