Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Kapuas Hulu adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Putussibau yang dapat ditempuh lewat transportasi sungai Kapuas sejauh 846 km, lewat jalan darat sejauh 814 km dan lewat udara ditempuh dengan pesawat berbadan kecil dari Pontianak melalui Bandar Udara Pangsuma. Memiliki luas wilayah 29.842 km² dan berpenduduk 222.160 Hasil Sensus Penduduk Tahun 2010.

Julukan kota air untuk kota Kuala Kapuas adalah singkatan dari kota aman, indah dan ramah. Tapi secara geografis letak kota Kuala Kapuas terletak diantara dua sungai Kapuas atau diapit oleh dua sungai. Kota air tidak hanya sebagai julukan kota aman, indah dan ramah tapi hampir semua Kecamatan dan desa di wilayah Kabupaten Kapuas bisa dijangkau melalui air. Hal ini dikarekan pada masa lalu jalan utama menuju Desa/Kecamatan di wilayah Kapuas adalah sungai sehingga kelotok, speed boat dan bis air merupakan alat transportasi utama menuju desa-desa tersebut.

Bila kita menelusuri sungai Kapuas akan terlihat banyak sekali Desa-desa/ perkampungan dan rumah-rumah warga yang tinggal di pinggiran sungai. Pemandangan tersebut membuktikan pada masa lalu sungai merupakan tempat penghidupan utama warga baik sebagai jalan utama menuju desa ataupun tempat warga mencari nafkah. Sekarang sungai Kapuas menjadi alternatif pilihan kedua selain jalan darat untuk mencapai desa-desa di wilayah Kapuas.

1. Taman Nasional Danau Sentarum

sumber foto dari https://rizkianiputri.wordpress.com/

Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dengan luas area sekitar 132..000 hektar merupakan perwakilan ekosistem lahan basah danau, hutan rawa air tawar dan hutan hujan tropik di Kalimantan. Terletak di kabupaten paling timur Provinsi Kalimantan Barat yang meliputi 7 kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu Kecamatan Batang Lupar, Badau, Embau, Bunut Hilir, Suhaid, Selimbau, dan Semitau. Di kawasan ini terdapat berbagai obyek wisata yang unik, menarik, dan menantang, seperti wisata hutan, wisata pendidikan, wisata danau, wisata desa, wisata budaya, dan lain sebagainya. Dibatasi oleh bukit-bukit dan dataran tinggi yang mengelilinginya, Danau Sentarum merupakan daerah tangkapan air dan sekaligus sebagai pengatur tata air bagi Daerah Aliran Sungai Kapuas. Dengan demikian, daerah-daerah yang terletak di hilir Sungai Kapuas sangat tergantung pada fluktuasi jumlah air yang tertampung di danau tersebut. Kawasan danau yang terbentuk pada zaman es atau periode pleistosen ini semakin lengkap dengan adanya empat pegunungan yang bagai pengawal abadinya tersebut, yaitu pegunungan Lanjak di sebelah timur, pegunungan Muller di sebelah barat, pegunungan Madi di sebelah selatan, dan pegunungan Kelingkang d isebelah utara. 

Sistem perairan danau air tawar dan hutan tergenang ini menjadikan Danau Sentarum tidak seperti danau-danau lainnya. Airnya bewarna hitam kemerah-merahan karena mengandung tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya. Pada saat musim hujan, kedalaman danau mencapai 6-8 meter, menyebabkan tergenangnya hutan sekitarnya. Pada musim kemarau, Sungai Kapuas berangsur-angsur turun, air Danau Sentarum akan mengalir ke Sungai Kapuas sehingga debit air di sungai tersebut relatif stabil. Akhirnya pada saat puncak musim kemarau, keadaan Danau Sentarum dan daerah sekitarnya akan menjadi hamparan tanah yang luas. Ikan-ikan yang tadinya berada di danau, akan terlihat di kolam-kolam kecil.

sumber foto dari http://infopromodiskon.com/

Kekayaan jenis flora yang terdapat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang tercatat hingga saat ini berjumlah 675 jenis, tergolong dalam 97 Familia. Dari jumlah tersebut 33 jenis merupakan jenis endemik dan 10 jenis merupakan jenis baru. Sementara untuk jenis fauna, Mamalia (Mamal) 147 jenis (Hampir 2/3 atau 64 % mamalia Kalimantan terdapat disini), Reptilia (Reptil) 31 jenis, Aves (Burung) 310 jenis,dan Pisces (Ikan) 266 jenis. Sekitar 78 % jenis ikan Kalimantan dapat ditemukan disini. Selain itu, di kawasan ini memiliki potensi lebah madu liar yang dikelola oleh masyarakat setempat dan telah mendapatkan sertifikat madu hutan organik dari BIOcert (certified organic). 

Untuk mencapai Kawasan, beberapa pilihan rute dapat ditempuh. Bagi wisatawan yang memilih transportasi udara, dapat memulai perjalanan dari Bandara Supadio Pontianak menggunakan pesawat menuju Bandara Pangsuma Kota Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 15 menit. Dari Kota Putussibau, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju TNDS dengan naik speedboat atau longboat via Nanga Suhaid, dengan waktu tempuh sekitar 5 jam, atau menggunakan transportasi darat Putussibau-Lanjak dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam. Wisatawan yang ingin menggunakan transportasi darat, dapat naik bus dari Kota Pontianak menuju Kota Putussibau. Dari Kota Putussibau, perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu motor menuju TNDS. Selain rute Pontianak-Putussibau, wisatawan dapat juga mengunjungi TNDS melewati rute Pontianak-Sintang-Semitau dengan waktu sekitar 11 jam. Kemudian, dari Semitau perjalanan dilanjutkan dengan naik speedboat atau longboat jurusan Lanjak.

sumber foto dari https://borneochannel.com/taman-nasional-danau-sentarum/

Di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum terdapat beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh wisatawan, seperti pemandu wisata, kantor suaka marga satwa, pusat penelitian, laboratorium, persewaan perahu untuk mengelilingi Danau Sentarum, shelter, dan warung. Nelayan di Kawasan tersebut juga menjual aneka jenis ikan segar yang dapat dinikmati langsung di pinggir danau dengan cara dibakar atau digoreng. Bagi wisatawan yang ingin bermalam, dapat menginap di rumah-rumah penduduk di sekitar taman nasional atau di penginapan kelas melati yang terdapat di Lanjak, Semitau, dan Selimbau. Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana yang berbeda, dapat menginap di rumah terapung (lanting) yang banyak ditemui di Semitau atau di atas perahu motor (bandung) yang ada di sekitar Danau Sentarum. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menyatu dengan alam, dapat berkemah di berbagai lokasi yang ada di kawasan tersebut. Sebagai oleh-oleh, wisatawan dapat membeli madu murni, ikan asin beraneka jenis, dan pernak-pernik khas Suku Dayak yang banyak dijual di perkampungan Suku Dayak Iban.

2. Rumah Betang

sumber foto dari https://situsbudaya.id/rumah-betang-tertua-kapuas-hulu/

Kabupaten Kapuas Hulu memiliki sejumlah rumah Betang, dimana bisa menjadi tempat wisata oleh Pemerintah Kapuas Hulu, menarik para wisatawan nasional maupun internasional. Seperti salah satu cagar budaya di Kapuas Hulu yaitu, Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean yang tertua di Bumi Uncak Kapuas. Berada di Desa Banua Tengah, Kecamatan Putussibau Utara, rumah betang ini memiliki 40 pintu.

Tak heran setiap tahun banyak wisatawan dari manca negara berkunjung ke Rumah Betang ini.

Mereka takjub melihat arsitektur bangunan dan keramahan penduduk lokalnya. Rumah adat masyarakat Dayak ini didirikan oleh Bakik, Layo pada 1864 dan sudah mengalami dua kali renovasi, yakni pada 1940 dan 2005. Bangunan sudah berumur ini, dihuni hampir 200 jiwa dengan 53 Kepala Keluarga (KK) dihuni oleh warga suku Dayak Embaloh beragama Katolik.

Bangunan tersebut masih asli, sehingga banyak wisatawan dari luar negeri berbondong-bondong datang, untuk melihat langsung kondisi bangunan, dan masyarakat yang tinggal di Rumah Betang tersebut. Panjang Rumah Betang sekitar 240 meter dan tinggi tiang pondasi sekitar 10 meter.

sumber foto dari https://bohemuchnehe.club

Khusus untuk di Kecamatan Putussibau Utara, terdapat tiga rumah betang. Pertama, Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean. Kedua, Rumah Betang Nanga Nyabau. Ketiga, Rumah Betang Uluk Apalin. Hanya saja, Rumah Betang Uluk Apalin, bangunan fisik sudah tidak ada lagi, karena Sabtu, 13 September 2014, terjadi kebakaran hebat dan menghanguskan seisi bangunan.

Tetua Adat Rumah Betang Sao Langke Adat Dai Bolong Pambean, Santok (80) menyatakan, Rumah Betang ini memiliki pondasi tiang menggunakan kayu gelondongan. Ini jenis kayu belian dengan diameter 70-80 cm dan panjang sekitar 20 meter.

Kondisi bangunan sengaja dibuat orang zaman dahulu dengan model pondasi tiang yang tinggi, untuk menjaga agar musuh tidak bisa menombak penghuni rumah dari bawah bangunan tersebut.

sumber foto dari https://situsbudaya.id/rumah-betang-tertua-kapuas-hulu/

Secara logika memang tidak masuk akal, di mana kayu dengan diameter 80 cm dan panjang 20 meter dapat didirikan untuk pondasi bangunan. Apalagi bila mengingat orang zaman dahulu, belum menggunakan peralatan modern seperti eksavator, ceng hok dan sebagainya. Ada sekitar 40 jumlah kayu besar untuk pondasi yang didirikan di bangunan ini. Santok menceritakan, orang dahulu, pendirian tiang besar untuk pondasi Rumah Betang tersebut, menggunakan rotan khusus yang sudah dianyam.

Selain tu jelasnya, pembuatan Rumah Betang dengan kondisi yang memanjang tersebut, bertujuan menjaga persatuan, kekompakan, persaudaraan, gotong-royong dan tolong menolong antar sesama.

3. Masjid At-Taqwa Selimbau

sumber foto dari https://www.pontianakpost.co.id/

Para wisatawan yang sedang bertualang menyusuri Sungai Kapuas akan terpukau begitu sampai di Selimbau, Kalimantan Barat. Di sana ada sebuah masjid dengan warna mencolok. Itulah Masjid Jami At-Taqwa. Masjid ini terkenal karena menjadi lambang kejayaan Kerajaan Selimbau. Masjid ini terletak di Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Zaman dahulu, Kerajaan Selimbau yang berdiri sejak abad ke-8 merupakan kerajaan Hindu. Namun, sejak raja ke-20, Pangeran Sutakusuma Muhammad Jalaludin memeluk Islam, Selimbau pun menjadi kerajaan Islam dengan nama Kerajaan Selimbau Darussalam.

sumber foto dari https://www.pontianakpost.co.id/

Kerajaan Selimbau mencapai kejayaan pada masa pemerintahan raja ke-22, Panembahan Haji Gusti Muhammad Abbas Suryanegara, sekitar tahun 1886. Kejayaan Selimbau tak lepas dari hasil bumi berupa tambang batu bara yang dikontrak oleh Belanda.

Pada masa itu, perdagangan dengan saudagar muslim juga berkembang pesat. Banyak saudagar kaya dari Arab membantu mendirikan masjid ini untuk kepentingan umat muslim pada umumnya.

Bahkan, salah satu juru kunci makam Rasululah, yaitu Syech Habib Hamzah Mahdali sering  mengajarkan Al-Quran di masjid ini dan ketika beliau wafat, jenazahnya juga disalatkan di masjid ini.

Pada masa pemerintahan Raden Muhammad Abbas Suryanegara, masjid ini didirikan. Desain masjid dibuat oleh kerabat kerajaan, yaitu Pangeran Haji Surapati Nata Setia Wijaya dan Raden Prabu Hayat.

WordPress Image Lightbox