Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Keelokan Bima Yang menawan

Kabupaten Bima adalah sebuah kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ibu kotanya ialah Woha. Luas kabupaten Bima sekitar 4.389 km². Nama kabupaten Bima mungkin tidak terlalu dikenal oleh wisatawan apalagi wisatawan luar propinsi Nusa Tenggara Barat. Walaupun kabupaten Bima tidak terlalu terkenal dibandingkan daerah wisata lain pada umumnya tetapi wisata di kabupaten Bima tidak kalah indahnya dibandingkan wisata daerah lain di Indonesia.

Jika anda berkunjung ke kabupaten Bima, jangan lupa untuk mengunjungi 8 tempat wisata berikut ini, apalagi jarak antara tempat wisata yang kami rekomendasikan ini tidak terlalu jauh dan masih berada di dua kecamatan yang sama.

1. Pantai Lariti

Sumber foto dari https://travel.detik.com/Dispar Bima

Pantai Lariti adalah pantai indah yang berada di ujung timur provinsi NTB. Pantai ini kian menawan dengan penataannya yang baru. Pantai ini berada di Desa Soro, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, NTB.

Pantai cantik ini tidak jauh dari Pelabuhan Sape, yaitu gerbang laut yang menghubungkan ujung Pulau Sumbawa dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jarak tempuh Lariti dari Kota Bima bisa dicapai dalam waktu satu jam perjalanan dengan mengendarai mobil atau motor.

Sumber foto dari https://akato.id/read/pantai-lariti-di-ntb-yang-kian-memikat/687

Traveler mengenal Pantai Lariti ini dengan hamparan pasir putihnya yang membelah laut dan menghubungkannya ke pulau mungil yang terletak di sebelah timur.

Terbelahnya laut yang memunculkan bentangan jalan penghubung itu tak setiap hari bisa ditemukan. Kemunculannya pun bergantung dari grativitasi bulan.

Pergeseran gaya gravitasi bulan dan arah terbitnya bulan itulah yang nenentukan pasang dan surutnya air laut di Lariti dan berpatokan pada penanggalan Hijriah. Lariti akan terbelah biasanya dari jam 10 pagi hingga 4 sore Waktu Indonesia Tengah (Wita).

2. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Sumber foto dari http://bujangmasjid.blogspot.com

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin merupakan masjid kesultanan Bima. Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan Bima ke-8, Wajir Ismail, di masa ke-emasan Kesultanan Bimal. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943), Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh sebagai Sultan di Kesultanan Bima sebelum wilayah Kesultanan disatukan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masanya masjid ini merupakan pusat pendidikan dan penyebaran Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya dan menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan dan kemajuan Islam di Bima. Selain itu, masjid ini bisa diajdikan ikon wisata andalan di Bima. Seperti halnya tatanan pemerintahan kesultanan di Nusantara, masjid Kesultanan Bima ini juga menjadi elemen penting yang menjadi kesatuan dari pemerintahan Kesultanan Bima baik dari tata letak bangunan maupun dalam nafas pemerintahan Kesultanan.

3. Uma Lengge

Sumber foto dari http://www.indikatorbima.com/

Destinasi wisata yang satu ini merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat menarik untuk di kunjungi. Namun, jika ingin mendapatkan waktu yang pas untuk mengunjungi tempat ini maka sebaiknya kalian datang pada Bulan ke enam. Hal ini dikarenakan pada waktu itu masyarakat sedang melaksanakan panen. Jika kalian bertanya kenapa harus menunggu masa panen. Hal ini berhubungan dengan Uma Lengge itu sendiri. Di Kabupaten Bima terdapat rumah tradisional yang disebut “Uma Lengge”. Uma berarti berarti rumah dan lengge berarti mengerucut/pucuk yang menyilang. Uma Lengge merupakan rumah tradisional peninggalan nenek moyang suku Bima.

Sumber Foto dari https://www.picswe.com/pics/uma-lengge-29.html

Secara umum struktur uma lengge berbentuk kerucut setinggi 5 cm sampai 7 cm, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma yang terbuat dari alang-alang, langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyanggah, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge.

Uma Lengge terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama dipergunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat, lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur, sementara itu lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti padi dan lain-lain. Secara geografis Uma Lengge berlokasi di tiga tempat yaitu di Desa Maria Kecamatan Wawo, Desa Mbawa Kecamatan Donggo dan Desa Sambori Kecamatan Lambitu. Rumah tradisional Bima khususnya di wilayah Mbawa dan Padende (Donggo) disebut Uma Leme. Dinamai demikian karena rumah tersebut atapnya lebih runcing daripada Uma Lengge. Di Kecamatan Donggo juga terdapat lengge, meskipun memiliki sedikit perbedaan dengan Uma Lengge yang ada di Sambori maupun Uma Lengge yang ada di Wawo.

Seiring perubahan zaman dimana masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman maka keberadaanUma Lengge ini sudah semakin terkikis dan tertinggal. Fungsinya pun sudah dialihkan sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Seperti halnya Uma Lengge yang ada di Desa Maria Kecamatan Wawo, Uma Lengge sudah ditempatkan dan dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ketika ada kebakaran atau bencana lain. Bila rumah tempat tinggalnya terbakar maka masih ada Uma Lengge sebagai lumbung yang menjadi hartanya atau sebaliknya. Uma Lengge merupakan aset budaya bima dan warisan leluhur Suku Bima yang harus dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan datang.

WordPress Image Lightbox