Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Dobo.

Kabupaten Kepulauan Aru memiliki keanekaragaman alam yang menjadi daya tarik wisata, meliputi pantai, sungai, gua, hutan dengan flora dan fauna nya, serta keragaman budaya.  Mengunjungi Kabupaten Kepulauan Aru bagaikan mengujungi keajaiban dunia pariwisata. Di Pulau Eno, Anda dapat menjumpai penyu hijau yang sudah langka, Pulau Toba , Anda bisa memancing, berenang dan menikmati keindahan alamnya.

Ada juga pantai Kora Evar yang cantik, seperti pantai pantai lainnya di Maluku.  Selain itu pulau ini kaya akan setwa yang endemik, hutan di Pulau Aru juga merupakan habitat bagi Cendrawasih Raja, burung Kaka Tua Titam, Manukodia Kilap, Manukodia Terompet, Kangguru dan masih banyak macam jenis hewan yang mendiami kawasan hutan di Pulau Aru.

Kabupaten ber Ibu Kota di Kota Dobo ini selain memiliki alam yang indah dan beragam, juga berkilau lewat hasil lautnya, terutama hasil Mutiara Emas nya yang indah menawan, serta hasil lautnya seperti, ikan, udang, rumput laut, teripang.

Untuk menuju ke Kabupaten Kepulauan Aru dari Bandara Internasional Pattimura Ambon, menuju ke Bandara Dumatubun Kota Tual, selanjutnya baru menuju ke Bandara Rar Gwamar, Pulau Aru. Sementara kalau memakai transportasi laut, menggunakan kapal Pelni KM.Tidar dari Kota Ambon transit ke Pulau Banda, ke Kota Tual, selanjutnya ke pulau Aru. Lama perjalanan menggunakan kapal laut dari Ambon ke Aru kira kira 2 hari 1 malam.

1. Pantai Liang

sumber foto dari https://2.bp.blogspot.com/

Pantai Liang mungkin masih terdengar asing di telinga. Meski begitu, pantai ini menyimpan sejuta keindahan yang bisa membuat kamu kagum melihatnya. Bagaimana tidak, Pantai Liang ini pernah dinobatkan sebagai pantai terindah di Indonesia lho.

Kalau kalian bosan dengan wisata pantai di kawasan Bali atau Lombok, mungkin sudah saatnya melirik destinasi wisata bahari di tempat lainnya. Wilayah Indonesia Timur terkenal dengan keindahan pantainya, salah satunya di kawasan Ambon.

Adalah Pantai Hunimua atau yang lebih dikenal oleh masyarakat umum dengan sebutan Pantai Liang yang termasuk salah satu pilihan wisata bahari di Ambon. Pantainya masih original dan nggak seramai pantai-pantai lain seperti Pantai Hukurila atau Pantai Natsepa yang sudah jadi tempat favorit wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

sumber foto dari https://4.bp.blogspot.com/

Pantai ini terletak di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Kalau dari pusat Kota Ambon, Pantai Liang ini berjarak 40 kilometer atau bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih satu jam. Kamu bisa menyewa ojek di pusat kota dengan tarif sekitar Rp 50.000 untuk sekali jalan. Tapi kalau datang dengan rombongan, menyewa angkutan biasanya lebih murah.

Angkutan umum dengan kapasitas sepuluh penumpang bisa kamu sewa seharga Rp200.000. Sementara untuk tiket masuk ke Pantai Liang sendiri juga nggak mahal. Kamu cukup merogoh kocek Rp15.000 sudah bisa menikmati nyiur melambai di Pantai Liang ini.

2. Kota Mutiara Dobo

sumber foto dari https://3.bp.blogspot.com/

Kota mutiara itu berada di Dobo, kawasan paling ramai di Kepulauan Aru, kumpulan pulau-pulau kecil di Maluku Tenggara yang dipisahkan oleh sungai-sungai berair asin. Sungai-sungai itu berair asin karena sebenarnya adalah lautan yang memecah kepulauan Aru. Ibukota kepulauan ini adalah kota Dobo yang merupakan kota penghasil mutiara dan tempat orang-orang di kepulauan Aru berpesta.

Walaupun Dobo adalah kota kecil yang bisa dikelilingi dalam waktu hanya satu jam, tapi disini anda bisa menemukan berbagai fasilitas umum, warung-warung makan dan bahkan berbagai pusat hiburan seperti diskotik. Kota Dobo akan ramai di hari sabtu malam saat para petani sagu dan nelayan yang sudah seminggu penuh bekerja mencari nafkah, ingin sedikit bersenang-senang dengan berpesta kecil di kota Dobo. Mereka datang dari desa ke Dobo untuk menikmati sisa dari hasil kerja mereka selama satu minggu, semantara anak-anak masih harus bersabar untuk bisa sekolah. Bukan karena tidak ada fasilitas, fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah dan puskesmas tersebar dimana-mana, hanya saja sumber daya manusia belum memadai untuk membuat mutiara di Dobo terlihat bersinar.

sumber foto dari https://i.ytimg.com/vi/JrNoPT_clFw/maxresdefault.jpg

Dulu, untuk mendapatkan mutiara di Dobo orang hanya tinggal menyelam dan mutiara-mutiara sudah kelihatan. Sekarang, kerang-kerang dibudidayakan agar bisa menghasilkan mutiara sebelum akhirnya dijual didalam maupun diluar negeri. Mutiara yang paling banyak dibudidayakan di Dobo adalah mutiara dengan jenis blitz star. Mutiara ini tumbuh di kulit kerang dengan bentuk bermacam-macam seperti pipih, lonjong, dan juga bulat. Selain mutiara budidaya, kepulauan Aru juga masih menyediakan mutiara-mutiara asli dari dalam laut. Perbedaan mutiara budidaya dan mutiara laut adalah bekas suntik yang terdapat di mutiara budidaya sehingga mutiara budidaya sering juga disebut mutiara suntik. Lubang suntik itu ada karena memang mutiara budidaya disuntik untuk mempercepat pertumbuhan. Untuk mendapatkan mutiara yang mulus tanpa bekas suntikan, tentu harus mencari mutiara yang tumbuh sendiri didalam laut.

Selain mutiara untuk perhiasan, Dobo juga punya mutiara yang tidak bisa anda bawa pulang, yaitu keindahan alamnya di Pantai Wangel di sebelah barat Dobo dan Pantai Wamar di sebelah timur pulau Dobo. Sehingga, pulau kecil ini bisa menjadi surga untuk matahari terbit dan matahari terbenam. Tentunya anda tinggal mengunjungi Pantai Wamar saat matahari terbit dan mengunjungi Pantai Wangel saat matahari terbenam. Pantai Wangel punya pemandangan yang luar biasa indah dengan warna laut yang biru terang dan hampir sama dengan warna langit, hanya dipisahkan dengan awan putih yang menggumpal. Di salah satu sisi Pantai Wangel juga ada sebuah pulau kecil seperti terapung diatas air dengan beberapa  pohon hijau menghiasa yang mebuat pantai ini semakin indah. Saat matahari terbenam, tidak usah diragukan lagi, matahari yang bulat akan akan membuat warna laut berubah jingga, lalu turun melewati awan-awan dihadapannya sampai tenggelam di ujung lautan.

3. Al-Qur’an Tua di Desa Ujir

sumber foto dari https://insanwisata.com/

Alquran yang diperkirakan berusia ratusan tahun di Desa Ujir, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, hingga kini masih utuh dan dirawat dengan baik oleh masyarakat setempat. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Aru, Moh Dahlan Ohoirenan, mengatakan bahwa Alquran itu masih utuh dan terawat baik, tapi tidak dimanfaatkan umat Islam.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Aru menetapkan Alquran tua tersebut sebagai salah satu aset pariwisata sejarah yang bisa dinikmati para wisatawan. Terutama, mancanegara yang berkunjung ke sana

sumber foto dari https://s.republika.co.id/

Masyarakat Kepulauan Aru mengakui Desa Ujir merupakan desa Islam tertua di sana. Dahlan mengatakan bahwa Alquran tua tersebut awalnya akan dipamerkan saat perhelatan MTQ ke-XXIV tingkat Provinsi Maluku. Acara akan dibuka Gubernur Karel Albert Ralahalu di Dobo pada 21 Mei 2011.

Desa Ujir juga memiliki meriam tua peninggalan Portugis yang dilindungi perangkat desa setempat sebagai aset sejarah dalam mendukung pengembangan pariwisata. Ujir juga memiliki pantai yang bersih dan airnya bening sehingga memiliki pesona bawah laut menarik untuk selam maupun mancing aneka jenis ikan.

WordPress Image Lightbox