Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Keunikan Wisata Rote Ndao

Kabupaten Rote Ndao adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di beranda terselatan Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Baa. Kabupaten in memiliki luas wilayah 1.280,10 km² dan berpenduduk sebanyak 147778 jiwa (2015).

Setiap sudut Indonesia itu indah. Dari ujung barat hingga timur, utara hingga selatan, siapa pun bisa dibuat kagum oleh keindahan panorama alam yang dihadirkan. Lanskap bumi yang keren hingga atmosfer udara yang ideal untuk berwisata membuat Indonesia banyak disebut sebagai cuilan surga yang terserak di bumi.

Salah satu sisi surga tersebut ada di Pulau Rote, Nusa Tenggara  Timur. Pulau paling selatan di Indonesia itu memiliki banyak spot keren dan menarik untuk dikunjungi. Dari pantai hingga danau, bahkan savana dan mata air, destinasi wisata di Pulau Rote sama sekali tidak bisa dianggap remeh, bahkan layak menjadi jujukan liburan kamu berikutnya.

1. Pantai Bo’a

sumber foto dari https://journal.sociolla.com/

Tak ada habisnya mengeksplor pulau yang digandrungi wisatawan. Kecantikan Pantai Bo’a di Pulau Rote, NTT tak boleh dilewatkan. Pantai ini menjadi surganya para peselancar.

Selama ini orang mengenal Pantai Nembrala di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur adalah sebagai tempat berselancar bagi para bule-bule. Siapa sangka kalau ternyata tempat berselancar itu adalah Pantai Bo’a, bukan Pantai Nembrala. Pantai ini berjarak sekitar 5 km dari Pantai Nembrala.

Pantai Nembrala sendiri dijadikan sebagai tempat bagi para petani rumput laut untuk membudidayakan rumput laut. Tapi hamparan pasir putih kedua pantai ini sama-sama indah. Di wilayah Desa Nembrala sendiri tersebar resor, cottage dan beberapa penginapan lain di sana.

Persepsi yang selama ini masyarakat luas kenal tempat untuk berselancar itu adalah Nembrala. Namun yang sebenarnya adalah Pantai Bo’a. Pantai yang berjarak kira 5 km dari Dusun Nembrala ke arah barat daya.

Bo’a Beach sendiri jika dibandingkan dengan Nembrala belum begitu terawat. Sepanjang daerah di kawasan Pantai Bo’a belum ada penginapan. Kawasan sepanjang Pantai Bo’a itu sementara dalam proses pembangunan yang pemiliknya adalah Panji Triadmodjo.

sumber foto dari https://www.indonesiakaya.com/

Di Nembrala Beach bisa menikmati matahari terbenam dan petani rumput laut. Pemandangan di Nembrala Beach sungguh menganggumkan. Mulai dari pemandangan senja sampai dengan pemandangan para petani rumput laut ada di sana.

Masyarakat sekitar Dusun Nembrala sampai dengan Bo’a itu sangat ramah dan bersahabat. Ya, pokoknya tidak akan merasa sendirian jika sudah berada di sana. Yang penting traveler mau bergaul dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Cara mengakses Pulau Rote cukup mudah. Ada 2 alternatif transportasi, yakni bisa dengan kapal cepat atau lambat dan menggunakan pesawat. Jika Anda menaiki kapal lambat dan kapal cepat ada setiap hari, namun selalu dikondisikan dengan cuaca yang ada.

Sedangkan untuk pesawat hanya ada 2 kali seminggu. Apabila menggunakan kapal cepat dari Tenau dengan harga Rp 120.000 dan kapal lambat dengan harga Rp 100.000 saja.

Setelah tiba di Pelabuhan Ba’a bisa langsung menggunakan angkutan umum yang langsung menuju Nembrala dengan ongkos Rp 25.000. Bagi yang ingin menginap, Ada tempat penginapan murah di Tirosa Hotel seharga Rp 150.000 per orang. Anda akan mendapatkan pemandangan langsung menghadap ke pantai dan bisa menikmati suara ombak saat malam hari.

Sedangkan bagi yang menggunakan pesawat kisaran harga Rp 300.000 sekali jalan. Cukup mudah bukan untuk akses berlibur ke sana. Kawasan wisata di Nembrala dan Bo’a diramaikan pelancong antara bulan April sampai dengan Oktober. Pada awal Oktober, setiap tahun tempat ini selalu mengadakan Kegiatan Selancar Internasional.

2. Kampung Sebelah kali 

sumber foto dari https://finance.detik.com

Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal sebagai surga para pemburu tenun ikat. Salah satunya di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Sebuah pulau terluar paling selatan Indonesia ini menjadi tempat asal usul tenun Rote. 

Ada 7 sentra tenun ikat di seluruh Kabupaten Rote Ndao seperti sentra tenun ikat Janur Kuning di Desa Namodale dan sentra tenun ikat Della di Desa Nemberala. Di kabupaten ini, tercatat sedikitnya da 252 orang ‘mama’, sebutan bagi ibu-ibu perajin tenun Rote.

Menurut penuturan staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao yang menemani rombongan mengunjungi sentra ini, Stef Mbatu, Kampung Sebelah Kali termasuk sentra tenun ikat tertua yang ada di Rote Ndao. 

sumber foto dari https://lutfifauziah.wordpress.com/

“Ini kampung asal tenun Rote, para mama di sini turun-temurun menenun dari nenek moyangnya. Bahkan masih ada yang menenun dari kapas yang dipintalnya sendiri,”. 

Ragam tenun Rote baik motif asli hingga modifikasi dengan dominasi warna hitam, putih dan merah ditawarkan di kampung ini. Kain tenun yang sudah jadi dipajang dengan seutas tali yang diikatkan ke pohon lontar.

3. Gereja Tua Laoholu

sumber foto dari http://www.wisata.nttprov.go.id

Terletak di Desa Oelua kecamatan Rote Barat Laut. Orang-orang yang ada di Nusa Dengka terlebih dahulu ada di Oelua. Pada waktu mereka mulai mengenal agama Kristen maka mereka membangun gereja pertama di Nusa Dengka pada tanggal 31 Oktober 1818 yaitu Gereja Loaholu Oelua.

Dan semua masyarakat Nusa Dengka datang berbakti di gereja tersebut karena belum ada gereja saat itu. Dan setelah tahun 1970-an baru dibangunnya rumah ibadat di wilayah masing-masing. Hingga saat ini Gereja Loaholu Oelua berdiri sebagai gereja induk yang dibangun pada zaman Belanda.

Gereja terdiri dari dua ruangan yaitu ruangan kebaktian dan ruang berdoa atau biasa disebut sebagai ruang konsistori. Dengan panjang gereja 25 meter dan lebar 11 meter 

disisi kiri gedung terdapat sebuah rumah yang terdiri dari dua ruang/kamar yang ditempati oleh pendeta dan keluarga. Luas tanah gereja ini adalah 2.626 meter persegi 

(75 x 35 meter).

WordPress Image Lightbox