Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Lembata adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Bupatinya untuk periode 2017-2022 adalah Eliaser Yentji Sunur. Lembata adalah salah satu nama dari gugus kepulauan di Kabupaten Flores Timur yang sudah memasyarakat sejak tahun 1965. Tetapi sebelum dikenal dengan nama Lembata, dahulu pada masa pemerintahan Hindia Belanda hingga kini dikenal dalam peta Indonesia dengan nama “Pulau Lomblen”. Pada tanggal 24 Juni 1967 dilaksanakan Musyawarah Kerja Luar Biasa Panitia Pembentukan Kabupaten Lembata yang diselenggarakan di Lewoleba yang kemudian mengukuhkan nama Lembata. Pengukuhan nama “Lembata” ini sesuai sejarah asal masyarakatnya dari pulau “Lepanbatan”, sehingga mulai 01 Juli 1967 sebutan untuk penduduk yang semula “Orang Lomblen” berubah menjadi “Orang Lembata”.

Dengan kondisi geografis berupa gugusan kepulauan, keindahan alam di Kabupaten Lembata begitu mengagumkan. Tidak heran jika wilayah kabupaten yang beribukota di Lewoleba ini memiliki banyak destinasi unggulan. Sebagai referensi, berikut ini adalah tempat wisata di Kabupaten Lembata NTT yang wajib disambangi.

1. Pantai Bean

sumber foto dari https://indahnyaflores.blogspot.com/

Jangan ngaku sudah pernah pergi ke Lembata kalau belum berenang di pantai Bean. Begitu ungkapan masyarakat sekitar untuk memprovokasi orang yang baru mendatangi Pulau Lembata. Siapa sangka di ujung tandusnya Lembata, pulau seribu pesona ini menyimpan sejuta panorama indah, rasa penasaran mengantarkan saya untuk mengunjungi pantai yang disebut-sebut mengalahkan pantai Phuket Thailand sekalipun.

Keindahan panorama pantai dengan hamparan pasir putih serta hempasan ombak yang cukup besar, serta tebing dan gua alam. Pantai Bean merupakan pantai pasir putih yang unik dengan pasir putih dalam bentuk kristal-kristal halus yang membentang dari barat ke timur sejauh kurang lebih 5 KM dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Indah sekali.

Pantai dengan kondisi seperti ini sangat cocok untuk berselancar dan surfing. Pantainya cukup landai dan aman bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai. Di pantai ini juga memiliki tebing yang cukup menarik untuk kegiatan wisata panjat tebing.

Pantai Bean terletak di ujung Pulau Lembata yang berhadapan langsung dengan Pulau Alor. Terletak di Desa Bean Kecamatan Buyasuri dengan jarak tempuh 82 KM dari pusat Kota Lewoleba, untuk menuju ke lokasi tersebut dapat ditempuh dengan angkutan darat.

Sumber foto dari http://norengwala.blogspot.com/

Jangan berpikir di seputaran pantai ini ada pasar ataupun hotel. Untuk sinyal dan listrik saja masi sangat minim. Biarpun tidak ada penginapan khusus, pihak desa setempat akan mengusahakan homestay untuk para pengunjung. Boleh juga membawa perlengkapan kemah sendiri dan bekal seadanya, mengenai makanan ringan kita bisa membelinya di kios-kios warga sekitar atau bisa juga membelinya di pusat kecamatan tapi kalau di pusat kecamatan lumanyan jauh dan menguras banyak tenaga. 

Untuk masyarakat sekitar jangan khawatir, mereka sangat welcome dengan tamu apalagi tamu yang berasal dari luar pulau Lembata. Bagi mereka, dengan semakin banyak tamu yang datang maka secara tidak langsung pariwisata di desa mereka mulai dikenal orang luar dan kedepannya sangat bagus untuk prospek ekonomi masyarakat.

Akses menuju pantai Bean memang harus menguji adrenalin, dari pusat kota Lewoleba menuju Kedang selanjutnya melewati beberapa desa menuju pantai Bean. Setelah sampai di desa Panama, membutuhkan waktu lebih kurang 40 menit untuk menuju ke Desa Bean dengan jalan yang lumayan buruk, berlobang, berbatu dan dengan kecuraman yang lumayan menggoda. Jika menggunakan sepeda motor dan berhasil melewati semua tantangan selama di jalan maka selamat anda adalah pengendara yang hebat. 

Berapa biaya masuk ke pantai Bean? Gratis. Pariwisata pantai Bean belum dikelola dengan baik oleh pemerintah sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaanya. Biarpun demikian, bagi para wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai Bean tidak akan menjadi masalah. Biarpun gratis, tidak salah juga bagi pengunjung untuk menyumbang alakadarnya kepada pihak desa setempat supaya mereka bisa menggunakan dana dari pengunjung untuk pengelolaan pantai yang lebih baik kedepannya.

2. Desa Nelayan Lamalera

Sumber foto dari https://www.jelajahpulau.com

Dunia perlu belajar kearifan lokal pada Desa Lamalera di NTT. Mereka berburu paus tidak dengan membabi buta, melainkan secara tradisional dengan penghormatan tinggi. Karena, laut memberikan penghidupan untuk mereka.

Sebuah desa bernama Lamalera di NTT yang mayoritas nelayan, masih mempertahankan budaya perburuan paus yang tradisional. Perjalanan jauh menuju Desa Lamalera akan terbayar ketika sampai di desa ini. Sebuah tradisi unik menangkap paus secara tradisonal yang turun temurun.

sumber foto dari http://edelbatafor.blogspot.com/

Desa Lamalera, Pulau Lembata, merupakan bagian dari Nusa Tenggara Timur. Pulau Lembata sendiri terletak 190 kilometer di sebelah utara Kupang, Ibukota Nusa Tenggara Timur. Perjalanan yang ditempuh pun cukup mudah, baik melalui laut maupun darat  untuk menuju Desa Lamalera.

Karena laut memberikan hidup dan penghidupan kepada orang Lamalera, maka medan laga itu diperlakukan dengan hormat. Orang Lamalera tidak memiliki kepercayaan tentang seorang penguasa laut, seperti Nyai Roro Kidul pada budaya Jawa. Tetapi arwah orang-orang yang meninggal di laut diyakini menjadi penghuni laut dan ikut menjaga keselamatan dan kesuksesan para nelayan.

3. Makam Raja Buya Saguwowo

Sumber foto dari http://zozu.site/@chitramarlis

makam raja kalikur, terletak di bagian timur kabupaten yang bernama raja buya saguwowo.

Kuburan ini agak unik karena terletak di atas sebuah batu besar di pinggir pantai, di sebuah tanjung kecil.

Perlu 3 jam perjalanan utk sampai di tempat ini dengan kondisi jalan yg kurang mulus.

Menurut penuturan warga setempat, raja sarabiti ini merupakan tokoh utama dalam penyebaran agama islam di pulau ini.

https://www.imgrumweb.com/hashtag/kalikur
WordPress Image Lightbox