Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Pesona Alam Sabu Raijua Yang Damai

Kabupaten Sabu Raijua adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto pada 29 Oktober 2008 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang.

Pada umumnya, destinasi wisata favorit di Indonesia pasti akan jatuh pada Bali ataupun Lombok. Akan tetapi, banyak daerah di tanah air ini yang sebenarnya sangat berpotensi seterkenal kedua destinasi tersebut karena menyimpan begitu besar pesona. Sayangnya, belum banyak orang Indonesia yang mengeksplorasi negaranya sendiri.

Salah satu yang mungkin tidak diketahui oleh orang–orang ialah daerah Sabu Raijua. Kabupaten Sabu Raijua yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini sendiri memang tergolong baru. Belum banyak diketahui pula jika kabupaten ini memiliki beragam keindahan pesona alam. Apa sajakah? Berikut tempat wisata di Sabu Raijua.

1. Grand Canyon Kelaba Madja

sumber foto dari https://www.asokaremadja.com/

Tidak ada yang lebih indah dari tempat yang terbentuk sendirinya karena alam. Kelaba Madja merupakan permata yang ada di Pulau Para Dewa, Nusa Tenggara Timur. Hamparan luas ini dipenuhi dengan tebing batu yang berwarna warni. Setiap tahunnya Kelaba Madja digunakan untuk lokasi upacara adat yang memilih tempat di tiga batu raksasa yang beridiri dengan kokohnya. Sebelah kanan mempunyai nama laki-laki, yang kiri dengan nama wanita. Sedang bagian ketiga disebut anak, lalu batu-batu yang bertebaran di sekitar disebut kawan-kawan.

Butuh perjuangan yang sangat keras untuk bisa sampai di Kelaba Madja. Kamu bisa menggunakan pesawat dari Susi Air dari Kupang menuju Kota Sabu (Sebu). Rute ini hanya terbang sebanyak dua kali dalam seminggu. Pilihan lainnya adalah menggunakan Kapal Fery dari Pelabuhan Bolok yang akan memakan waktu selama 14 jam. Setibanya di Sabu, kamu bisa segera mencari guide yang akan mengantarkanmu ke Kalebba. Jangan harap bisa naik mobil. Jalanan pun tak mulus, lebih baik menggunakan kendaraan roda 2. Dan berangkatkan pagi-pagi dan kembali sebelum gelap, ya.

sumber foto dari https://www.merdeka.com/

Kaleba Maja rupanya termasuk tempat yang dianggap keramat oleh warga. Tempat ini masih sering digunakan untuk upacara adat, seperti meminta hujan. Area yang berbatu indah ini juga digunakan Warga Sabu untuk memuja Dewa Maja, salah satu dewa kepercayaan di daerah ini. Turis yang datang berkunjung ke Kaleba Maja harus didampingi oleh warga sekitar. Bagaimanapun lokasi ini sudah seperti tempat ibadah bagi Warga Sabu. Jangan tinggalkan sampah, atau tulisan yang dapat merusak wisata ini, ya.

2. Kampung Namata

sumber foto dari http://edyraguapo.blogspot.com/

Warga Pulau Sabu Raijua dahulu dikenal memegang teguh pada adat dan kepeceryaan yang biasa dikenal dengan sebutan Jingitiu, atau agama warga Sabu. Salah satu sejarah peradaban agama Jingitiu di Sabu Raijua masih ada di Kampung Namata yang berada di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kampung ini dikenal sebagai kampung adat yang masih memegang teguh adat istiadat, budaya dan agama serta memiliki sejarah sebagai desa penganut agama Jingitiu atau pemujaan terhadap dewa– dewa para leluhur masyarakat Sabu. Kampung Namata, punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Sabu Raijua.

Kampung itu memberikan nuansa peradaban jaman megalitik, yang dipenuhi bongkahan batu yang berada di tengah kampung tersebut, serta tempat pemujaan di bagian depan perkampungan itu yang terdapat batu- batu yang disusun rapi. Warga Sabu percaya bongkahan batu- batu itu dengan sendiri berada di perkampungan itu. Terdapat beberapa rumah adat di perkampungan itu. Namun, tidak semua rumah adat bisa dimasuki oleh pengunjung, karena ada rumah adat yang dilarang masuk.

sumber foto dari http://www.nttprov.go.id/

Pada bagian depan terdapat batu yang berbentuk lingkaran merupakan arena sabung ayam warga Namata. Terdapat dua pintu kecil pintu bawah dan pintu atas, yang melambangkan dua suku yang ada yaitu suku Namata dan Nataga. Penjaga Kampung Adat Namata, Beni Keina menuturkan sebelum ada agama yang masuk ke Pulau Sabu, warga di perkampungan ini memegang teguh pada agama Jingitiu atau pemujaan kepada dewa-dewa dan leluhur. Agama baru masuk ke perkampungan itu sekitar tahun 1970-an yakni Katolik dan Protestan. Dengan masuknya dua agama itu, perlahan- lahan masyarakat kampung Namata mulai mengikuti ajaran agama itu, dan meninggalkan agama Jingitiu.

“Tahun 70-an, kami sekelurga mulai mengikutiajaran agama Kristen, namun tidak semua, karena masih memegang pada keyakinan Jingitiu, namun perlahan hingga hampir seluruhnya sudah memeluk agama yang diakui negara.”

Beberapa adata dan budaya warga Sabu yang sering digelar di kampung itu, seperti ritual adat sabung ayam (Peu Manu) setiap tahun digelar sebanyak tiga kali, sedangkan Tarian Ped’oa digelar setahun sekali di kampung adat Namata. “Ritual sabung ayam biasanya pada Januari, Maret dan April, terkadang Januari, April dan Mei.” 

Pada sisi lain kampung itu juga terdapat, Wo Wadu Rue adalah batu yang disakralkan warga setempat sebagai batu Sahid, yang dipercayai sebagai tempat membersihkan diri bagi orang yang mati sahid. Di tengah-tengah kampung adat ini terdapat batu-batu besar yang menjadi tempat pemujaan atau altar persembahan bagi leluhur yang di percayai menjaga kampung adat itu. Terdapat sembilan batu bulat dan altar persembahan dengan fungsinya masing-masing.

Kampung ini merupakan kampung adat warga Sabu yang masih tetap dijaga keasliannya. Letak kampung adat Namata tidak jauh dari Seba, ibu kota Sabu Raijua, hanya berjarak sekitar 2-3 kilometer (km) dengan jarak tempuh sekitar 15 menit perjalanan. Jika ingin mengetahui sejarah tentang Pulau Sabu, bisa kunjungi Kampung Namata.

3. Upacara Hole

sumber foto dari http://beautiful-indonesia.umm.ac.id/

Hole merupakan upacara adat yang sangat populer dikalangan masyarakat Sabu Raijua yang dilakukan secara massal. Upacara Adat ini menjadi sangat populer karena hanya dilakukan satu kali dalam setahun sehingga memikat banyak wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal termasuk orang Sabu Raijua yang selama ini berada diluar daerah untuk turut serta dalam kemeriahan dan kegembiraan ritual adat tersebut. Selain itu, Ritual adat Hole mengandung beberapa nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan sosial kemasyarakatan orang Sabu Raijua,antara lain Nilai kepercayaan, nilai kesadaran, nilai persatuan dan kesatuan, nilai etika, nilai estetika, nilai kesetiaan serta nilai yuridis.

sumber foto dari http://dohawucomunity.blogspot.com/

Ritual adat Hole akan dilaksanakan sesuai dengan kelender adat Masyarakat sabu raijua yang telah ditetapkan secara turun temurun oleh nenek moyang orang Sabu Raijua sejak dahulu kala. Kegiatan Adat Hole ini akan dilaksanakan tepat pada War”ru Bangaliwu dalam perhitungan Kelender adat atau sekitar Bulan Mei atau Juni dalam perhitungan Kelender Masehi. Pelaksanaan Kegiatan Hole akan diatur sesuai dengan Kelender adat Pada Wilayah Adat di Kabupaten Sabu Raijua, yang mana terdapat 5 Wilayah adat yakni Wilayah Adat Hab”ba yang wilayah administrasinya di Kecamatan Sabu Barat, Wilayah Adat Raijua yang wilayah administrasinya di Kecamatan Raijua, Wilayah adat Liae yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Sabu Liae, Wilayah Adat Mahara yang terletak di wilayah administrasi Kecamatan Hawu Mehara, serta Wilayah Adat Dimu yang terletak di wilayah Administrasi Kecamatan Sabu Timur dan Kecamatan Sabu Tengah. Pada tulisan ini penulis ingin fokus pada Ritual Adat Hole yang dilaksanakan Di Wilayah Adat Mahara yang kegiatannya dilaksanakan di Desa Rame Due , Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua.

WordPress Image Lightbox