Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Pohuwato atau Kabupaten Pahuwato adalah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Boalemo. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 yang ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Suasananya nyaman, panorama alamnya indah nan menawan jika dipandang mata, bak melihat gadis cantik yang rambutnya terurai serta senyumnya yang mempesona. Oh…, Pohuwato, tempat wisatanya luar biasa….!!!

Penggalan kalimat itulah terdengar dari para pengunjung wisata pantai di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Tak heran banyak wisatawan lokal maupun turis mancanegara berkunjung di daerah termuda ini hanya ingin melihat suasana pantai yang masih terjaga dan begitu alami.

Di tempat wisata itupun disediakan cottage atau tempat menginap bagi keluarga yang ingin sekedar memanjakan mata untuk melihat panorama alamnya. Pokoknya banyak tempat wisata tersedia yang tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat wisata yang satu ke tempat wisata lainnya.

Untuk mencapai Kabupaten Pohuwato jaraknya +150 KM dan hanya bisa ditempuh +4 jam dari Kota Gorontalo. Cukup dekat dan mudah ditempuh dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Apalagi jalannya sudah diaspal butas, sehingga membuat pengunjung tak merasa risih jika mendatangi kabupaten termuda tersebut. Berikut kami ulas sedikit tentang tempat wisata di Pohuwato yang mungkin bisa Anda kunjungi.

1. Pohon Cinta

sumber foto dari http://traveltodayindonesia.com/

Pantai Pohon Cinta merupakan salah satu objek wisata yang ada di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Bahkan, saat ini, wisata itu menjadi tempat favorit wisatawan lokal. Sesekali tak jarang pula wisatawan dari luar Kota dan mancanegara melancong di tempat itu.

Meskipun masih terbilang baru, objek wisata ini sudah menjadi buah bibir dan melegenda di kalangan warga Gorontalo. Pantai yang terletak di Desa Pohuwato Timur, Kecamatan Marisa, Pohuwato ini memang terkenal dengan keindahannya.

Para wisatawan dapat menikmati sepoi angin pantai yang sejuk serta dipadu dengan indahnya pemandangan. Pengunjung dapat memandang hamparan laut yang tidak terlalu berombak, sehingga merasa betah saat berada di Pantai Pohon Cinta. Tak hanya itu. Di sekitar Pantai Pohon Cinta sudah dibuatkan tempat joging yang sewaktu-waktu dapat digunakan sambil menikmati pantai yang indah ini. Setelah capek berwisata ataupun joging, pengunjung dapat mendatangi wisata kuliner yang juga berada di sekitar pantai dengan menyuguhkan makanan khas Gorontalo.

sumber foto dari http://satugorontalo.blogspot.com/

Di tempat ini pula disediakan wahana bermain untuk anak-anak. Setiap pengunjung tidak perlu lagi mencari tempat yang cocok untuk anak mereka. Semua sudah disediakan untuk anak-anak, sehingga aman saat mengunjungi Pantai Pohon Cinta di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Selain itu, lokasi Pantai Pohon Cinta tidak jauh dari pusat Kabupaten Pohuwato. Hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, pengunjung sudah sampai di lokasi. Perjalanan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, jadi sangat mudah dijangkau oleh siapa pun yang hendak melancong di pantai tersebut.

Tempat ini sangat bagus untuk bersantai ketika pagi dan sore hari , apalagi di saat Ramadan seperti ini, tempat ini cocok untuk ngabuburit dan banyak spot-spot selfie bagi para penggemar foto. Pantai Pohon Cinta juga memiliki fasilitas sangat memadai. Mulai dari tempat joging, tenpat bermain anak-anak hingga wisata kuliner, bisa dinikmati di tempat ini. Hal ini menjadi salah satu kenyamanan untuk kami selaku pengunjung.

2. Desa Torosiaje

sumber foto dari http://www.dianjuarsa.com

Pernahkah Anda mendengar sebuah desa bernama Desa Torosiaje? Torosiaje merupakan sebuah desa di Propinsi Gorontalo, tepatnya berada di Kabupaten Pohuwato. Desa Torosiaje merupakan salah satu destinasi wisata di Propinsi Gorontalo yang dikenal menyimpan banyak keunikan. Desa Torosiaje didiamai oleh suku Bajo yang dikenal sebagai suku laut.

Warga Desa Torosiaje tinggal dirumah-rumah pangung di atas air yang terhubung oleh gang-gang selebar 2 meter. Desa tersebut dihuni oleh 389 keluarga. Sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan sekaligus pembudidaya ikan. Uniknya, meskipun pemukiman dibangun di atas air, desa ini memiliki lapangan bulu tangkis. Terdapat juga gedung taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan masjid-masjid.

Desa Torosiaje juga melengkapi fasilitas wisata untuk wisatawan yang ingin menginap. Di desa terdapat dua penginapan dengan biaya sewa per kamar per malamnya Rp 100.000,-. Salah satu dari dua bangunan penginapan tersebut merupakan milik pemerintah, sedangkan yang satunya lagi merupakan bangunan yang dibangun secara swadaya oleh warga. Kalau Anda tidak kebagian kamar di salah satu penginapan, Anda bisa menginap di rumah salah satu warga. Selama di Desa Torosiaje, Anda bisa menyaksikan kehidupan sehari-hari Suku Bajo yang semua kegiatannya dilakukan di atas permukaan air. Kehidupan masyarakat Desa Torosiaje kebanyakan diisi dengan mengurus pembudidayaan dan mengangkat ikan.

sumber foto dari https://wisatadirektori.com/

Penamaan desa dengan sebutan Torosiaje, berasal dari kata “Tara,” kata dalam bahasa Suku Bajo tersebut berarti tanjung, dan “Si Aje” yang berarti panggilan untuk Si Haji, nama warga yang pertama kali mendiami daerah tersebut. Suku Bajo, perairan yang saat ini menjadi Desa Torosiaje tersebut mempercayai bahwa aura perairan tersebut masih jernih, yang berarti masih nyaman dan aman untuk ditinggali anak-cucu.

Saat ini, Desa Torosiaje tidak hanya dihuni oleh Suku Bajo, walaupun suku tersebut masih mendominasi, namun  kerukunan hidup bersama suku lain dapat tercipta dengan baik. Anda bisa menyaksikan interaksi antara Suku Bajo, Gorontalo, Bugis, Mandar, Buton, Minahasa, Jawa, dan Madura menjadi satu dalam wilayah tersebut. Untuk menjangkau Desa Torosiaje, butuh waktu sekitar tujuh jam dari Kota Gorontalo untuk menuju desa yang berada di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Bila memilih transportasi umum, Anda bisa naik angkutan kota dari Terminal 42, Kota Gorontalo. Naik angkutan kota tersebut akan membuat Anda bisa menjangkau sisi darat desa Torosiaje. Kemudian, silahkan naik perahu dari Torosiaje darat menuju Desa Torosiaje di laut.

3. Masjid Agung Baiturrahim Pohuwato

sumber foto dari https://deskgram.net/explore/tags/MasjidAgungPohuwato

Masjid Agung Baiturrahim adalah salah satu masjid tertua dan terbesar di Provinsi Gorontalo. Masjid ini didirikan pada tahun 1728 oleh Raja Gorontalo pada waktu itu yakni Raja Botutihe. Masjid Agung Baiturrahim terletak di pusat Kota Gorontalo.

Masjid Agung Baiturrahim merupakan salah satu masjid tua yang dibangun di daerah Gorontalo. Masjid tersebut didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo, tepatnya Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret 1728 M oleh Raja Botutihe, yakni Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo pada waktu itu.

Masjid Agung Baiturrahim didirikan di pusat Pemerintahan Kerajaan (Batato), di antaranya Yiladiya (Rumah Raja), Bantayo Poboide(Balai Ruang / Balai Musyawarah), Loji (rumah kediaman Apitaluwu atau Pejabat Keamanan Kerajaan), dan Bele Biya / Bele Tolotuhu, yakni rumah – rumah pejabat kerajaan. Selanjutnya sesuai dengan perkembangan Pemerintahan dan masyarakat dan umat Islam, masjid yang sebelumnya menggunakan bahan dari kayu-kayuan, direnovasi dan dibangun kembali. Antara lain, tiang – tiangnya diganti dengan bangunan yang berfondasi dan berdinding batu pada tahun 1175 H atau 1761 Masehi oleh Raja Unonongo. Tebal dindingnya 0.80 meter.Pada tahun 1938 masjid tersebut hancur akibat gempa bumi yang dahsyat dan sejak saat itu pelaksanaan ibadah salat dan ibadah lainnya dilaksanakan pada bangunan darurat dekat masjid tersebut sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1946 dan 1947 diadakan pembangunan kembali masjid tersebut dipimpin oleh Abdullah Usman sebagai Pimpinan B.O.W.

sumber foto dari https://deskgram.net/explore/tags/MasjidAgungPohuwato

Pada tahun 1964 Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo diperluas dengan penambahan serambi sebelah utara dan barat oleh panitia yang diketuai oleh T. Niode dan wakil ketuanya Haji Yusuf Polapa sebagai pelaksana harian. Tahun 1969 dibentuk lagi satu panitia yang baru yang diketuai oleh K.O. Naki, B.A. dan A. Naue sebagai pelaksana harian dan Kadi Abas Rauf sebagai pimpinan Ibadah. Perbaikan – perbaikan terus dilanjutkan di bawah pimpinan Sun Bone sampai pada bulan September 1979. Pada tahun 1982 dilakukan penambahan lokasi untuk jamaah wanita pada bagian selatan masjid oleh Bapak Drs. Haji Hasan Abas Nusi, Walikotamadya Gorontalo. Tahun 1988 dilakukan penataan pagar dan halaman oleh Bapak Drs. Ahmad Najamuddin, Walikotamadya KDH Tingkat II Gorontalo.Pada tahun 1996 diadakan penataan sumur bor sebagai tempat pengambilan air wudhu dan pendirian Menara Masjid oleh Bapak Drs. Hi. Ahmad Arbie, selaku Walikotamadya Tingkat II Gorontalo. Tahun 1999 dalam masa jabatan Walikotamadya Tingkat II Gorontalo Drs. Hi. Medi Botutihe, dilakukan pemugaran total Masjid Agung Baiturahim Kota Gorontalo, yang diresmikan oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Rabu, 13 Oktober 1999 (3 Rajab 1420 H).

WordPress Image Lightbox