Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Sumba Barat Daya adalah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sebagai pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, dan dibentuk berdasarkan UU No. 16 tahun 2007. Peresmian dilakukan oleh Penjabat Mendagri Widodo A.S. pada tanggal 22 Mei 2007.

Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur memiliki tempat-tempat yang sangat indah dan dapat dijadikan sebagai tempat menenangkan diri bagi siapa saja yang merasakan stres akibat aktivitas yang sangat berat atau untuk menghilangkan rasa kelelahan dalam tubuh kita. Berikut ini wisata alam di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur yang sangat eksotik namun jarang dikunjungi .

Pulau Sumba di NTT merupakan salah satu pulau yang banyak menyimpan harta kekayaan alam dan budaya. Pulau ini terbagi dalam 4 wilayah Kabupaten yakni Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.

Kabupaten Sumba Barat Daya telah umum dikenal dengan berbagai tempat wisata menarik. Di tempat ini, Anda akan menemukan aneka macam keindahan alam yang memanjakan mata dan layak dijadikan tempat berlibur. Berkut ini ada ada 10 tempat wisata menarik yang terdapat di Sumba Barat Daya.

1. Danau Weekuri

sumber foto dari https://backpackerjakarta.com/

Terletak di Desa Kalenarogo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Danau Weekuri mulai ramai dikunjungi oleh para wisatawan belakangan ini. Danau Weekuri yang berwarna hijau kebiru-biruan ini merupakan danau yang sangatlah unik jika dibandingkan dengan danau-danau pada umumnya di Indonesia karena kandungan airnya yang asin dan payau. Kenapa asin? Karena sebenarnya danau ini adalah sebuah laguna yang terbentuk dari air lautan lepas yang berada di kisaran danau. Air tersebut masuk dari celah-celah bebatuan yang berada di gugusan karang sekitaran danau. Selain sifat air payau yang dibawa dari laut, uniknya lagi di danau ini terdapat beberapa titik sumber mata air yang membuat gradasi warna air di danau ini bervariatif, yaitu ada yang berwarna biru cerah, biru sedikit kehijau-hijauan bahkan ada yang rasanya hangat dan ada yang dingin. Keunikannya sangat jarang ditemukan pada danau-danau lainnya di Indonesia!

Danau Weekuri memiliki air yang sangatlah jernih dengan kedalaman air yang tak cukup dalam, sehingga sangat cocok digunakan oleh pengunjung untuk sekedar bermain air dan berenang. Tersembunyi di balik pepohonan rimbun dan semak belukar serta jauh dari keramaian kota, suasana di sekitar danau terasa masih sangat asri.

Dari Waikabubak (ibukota Kabupaten Sumba Barat) atau Tambolaka (ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya), pengunjung dapat terlebih dahulu menyewa kendaraan bermotor baik motor/ mobil di Tambolaka atau Waikabubak. Untuk biaya sewa mobil berkisar mulai dari 500.000-600.000 rupiah sudah berserta dengan drivernya dan untuk biaya sewa motor yaitu sekitar 100.000-150.000 rupiah per harinya.

sumber foto dari https://iyakan.com/

Berjarak sekitar 60 km dari Tambolaka yang merupakan ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya, akses untuk menuju lokasi ini masih terbilang cukup sulit karena belum terdapatnya transportasi umum dan lokasinya yang berada jauh dari perkotaan. Tak ada satupun petunjuk jalan menuju ke lokasi sehingga pengunjung harus sering-sering bertanya dengan penduduk setempat keberadaan lokasi danau ini. Kondisi jalan menuju ke lokasi danau bervariatif, beberapa titik sudah beraspal halus namun ada sebagian titik yang masih berbatu dan masih dalam proses pengerasan tanah. Di tengah perjalanan menuju Weekuri, di kiri jalan Anda akan melihat sebuah resort milik warga negara Perancis yang mengeola Pantai Mandorak, salah satu pantai di wilayah Kodi. Tak jauh dari situ, Anda akan memasuki kawasan Danau Weekuri yang ditandai dengan adanya pos penjaga. Ada beberapa penduduk lokal setempat yang menjaga pos tersebut dan pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk seikhlasnya saja untuk menikmati danau indah ini. Selanjutnya dari pos jaga tersebut, pengunjung masih harus berjalan sekitar 20 meter untuk menuju lokasi danau.

 Selain dapat menikmati keindahan Danau Weekuri dengan bermain air ataupun berenang, pengunjung juga dapat menikmati dan menjelajahi keindahannya dari ketinggian. Hanya perlu berjalan kaki menyusuri jalan setapak ke arah barat mengikuti bunyi deru ombak, pengunjung dapat menaiki bukit karang yang menjorok ke lautan lepas. Ketika meniti bebatuan karang ini, pengunjung harus ekstra berhati-hati karena bebatuan karang ini sangat lancip dan tajam. Dari atas puncak bukit karang ini, pengunjung akan merasakan sensasi berbeda. Jauh lebih indah jika menikmati panorama keindahan Danau Weekuri dari atas bukit karang ini. Lautan biru dengan ombaknya yang menghantam gugusan karang yang mengelilingi danau ini akan membuat pengunjung berdecak kagum. Danau Weekuri pun terlihat seperti kolam biru apabila dilihat dari ketinggian.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Danau Weekuri adalah jam 4 sore hari. Pada sore hari matahari mulai condong ke barat sehingga langitnya yang biru akan memantulkan cahaya ke danau, selain itu juga pengunjung dapat menyaksikan matahari terbenam dari atas puncak bukit karang ini.

Tak ada fasilitas penunjang apapapun di kawasan danau seperti warung makan, toilet atau bahkan penginapan. Sebaiknya pengunjung berbekal makanan dan minuman ringan sebelumnya, sehingga dapat disantap sambil menikmati keindahan Danau Weekuri.

2. Kampung Ratenggaro

sumber foto dari https://www.indonesiakaya.com/

Sumba Barat Daya yang memiliki Pasola sebagai ikon budayanya, ternyata juga memiliki sebuah desa adat dengan ciri khas jajaran rumah adatnya yang menarik untuk disambangi. Terletak di wilayah Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo berjarak kurang lebih 40km dari Tambolaka, belum tersedia akomodasi umum yang dapat digunakan pengunjung untuk mencapai ke desa ini sehingga pengunjung harus menyewa kendaraan atau jasa travel dari Tambolaka yang berjarak sekitar 56 km ke lokasi Desa Ratenggaro. Akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam dengan kondisi jalan beraspal yang terpelihara baik.

Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro membuat para pengunjungnya serasa kembali ke jaman megalithikum sekitar 4.500 tahu yang lalu di mana masih terdapat kuburan batu tua di sekitar perkampungan. Ratenggaro sendiri memiliki arti yaitu ‘Rate’ yang berarti kuburan, sedangkan ‘Garo’ yang artinya orang-orang Garo. Jadi konon katanya dahulu kala ketika masih terjadi perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menjadi penghuni desa ini berhasil merebut wilayah desa orang-orang Garo. Pada zaman itu, suku yang kalah perang akan dibunuh dan dikubur di tempat itu juga. Terdapat 304 buah kubur batu dan 3 di antaranya berbentuk unik dan terletak di pinggiran laut. Ukuran dan pahatan pada tiap kubur batu semakin menambah kesan magis dan mendalam pada peninggalan leluhur. Bentuknya yang menyerupai meja datar dan berukuran besar terlihat sangat kokoh meskipun setiap harinya selalu terkena hantaman angin kencang dari arah laut yang terletak di belakang kampung. Selain batu kubur leluhur atau raja, terdapat pula batu kubur warga Rotenggaro lainnya dengan ukuran yang lebih kecil.

sumber foto dari http://journal.momotrip.co.id/

Kampung adat ini memiliki keunikan pada rumah adatnya (Uma Kelada) yang memiliki ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter.  Atapnya menggunakan bahan dasar jerami dan tinggi rendahnya atap didasarkan atas status sosial mereka. Ratenggaro meruapakan desa adat yang masih memegang teguh dan melestarikan adat dan tradisi peninggalan leluhurnya terbukti dari masyarakatnya yang masih menganut tradisi Marapu sama seperti kampung-kampung lain di Kabupaten Sumba Barat Daya pada umumnya.

Rumah Adat Ratenggaro memiliki bentuk rumah panggung yang terdiri dari 4 buah tingkat di mana tingkat paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan. Lalu tingkat kedua adalah tempat pemilik rumahnya tinggal bersama dan setelah itu di atasnya adalah tempat untuk menyimpan hasil panen. Kemudian di atas tempat memasak terdapat sebuah kotak yang merupakan tempat menyimpan benda keramat dan tingkat teratas adalah tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol tanda kemuliaan. Tipikal rumah adat di Desa Ratenggaro hampir sama seperti orang Flores dan orang Toraja di mana di umahnya terdapat rahang babi dan tanduk kerbau yang digantung sebagai simbol bahwa orang yang memiliki rumah tersebut pernah melaksanakan upacara adat.

Jadi, tertarik ingin merasakan kembali ke zaman megalithikum? Kunjungilah Desa Adat Ratenggaro apabila Anda sedang melakukan perjalanan overland menjelajahi Pulau Sumba.

3. Kuburan Batu Megalitik

sumber foto dari https://aristonkupangoptima.files.wordpress.com/

Bagi masyarakat Sumba umumnya dan Sumba Barat khususnya, Nusa Tenggara Timur, batu kubur megalitik merupakan warisan leluhur yang harus dipelihara dan dipertahankan.

Kuburan megalitik mudah saja ditemukan, baik di halaman rumah warga maupun di setiap perkampungan adat. Misalnya, di kampung adat Bondo Maroto, Tambelar, Tarung, dan Prairame. Kuburan batu megalitik juga ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Kabupaten Sumba Timur. Tradisi di setiap kampung hampir sama saja.

Keberadaan batu kubur megalitik lengkap dengan ornamen yang kita jumpai di Pulau Sandelwood ini merupakan lambang kebanggaan atau kebangsawanan atau kebesaran orang Sumba.

sumber foto dari https://kitadankota.files.wordpress.com

Tidak semua orang Sumba mampu membuat batu kubur besar karena membutuhkan biaya yang sangat besar. Puluhan ekor hewan dipotong, seperti ayam, anjing, babi, sapi dan kerbau selama menjalankan ritual adat, mulai dari pemotongan batu kubur, penarikan batu kubur hingga pengerjaan batu kubur. Jumlah hewan yang dibantai berkisar 50-an ekor. Ini belum terhitung  ayam dan anjing. Karenanya, sebelum memulai kerja, pemilik batu kubur beserta segenap keluarga besar harus mempersiapkan diri lebih matang agar pelaksanaan pengerjaan batu kubur berjalan lancar sesuai rencana yang telah disepakati.

Tidak semua batu kubur boleh atau dapat digunakan untuk menguburkan keluarga yang meninggal. Dalam adat-isitiadat setempat, ada sebutan batu kubur ‘pemali’. Batu itu berkaki empat dan memiliki ornamen. Model batu kubur seperti itu tidak sembarangan menguburkan keluarga meninggal, kecuali kepala adat atau setaranya,  batu kubur raja atau bangsawan, seperti batu kubur raja Loli, raja Loura, raja Kodi dan raja Anakalang.

Sayangnya, seiring perjalanan waktu tradisi budaya ini mulai bergeser dari kuburan batu potong asli ke model kuburan beton. Hal itu karena bahan pembuatan batu kubur mudah diperoleh, seperti semen, besi beton dan pasir. Secara ekonomis kuburan beton lebih ringan ketimbang menggunakan batu potong asli.

Dewasa ini pemerintah telah mengambil kebijakan melakukan penataan dan promosi asset wisata Sumba, termasuk batu kubur, kepada wisatawan nasional maupun mancanegara agar sebanyak mungkin mengunjungi Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Barat.

WordPress Image Lightbox