Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada masa lalu, kabupaten ini berada di bawah Keresidenan Timor. Kabupaten Sumba Timur sendiri meliputi 60% wilayah yang ada di pulau Sumba.

Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Tahun 2017, penduduk kabupaten Sumba Timur mwncapai 252.704 jiwa dengan kepadatan 36,09 jiwa/km².

Sebagian besar penduduk di kabupaten ini menganut agama Kristen sebanyak 81.12% (Protestan 71.80% dan Katolik 9.33%). Selebihnya adalah Islam sekitar 6.10%, Hindu 0.14% dan Budha 0.02%. Sejumlah 12.61% penduduk Sumba Timur menganut aliran tradisional yakni Marapu, aliran kepercayaan di pulau Sumba yang masih ada hingga saat ini. Pemerintah telah menjamin dan mengakui setiap aliran kepercayaan yang ada di Indonesia.

Wisata Sumba Timur akhir-akhir ini menjadi destinasi wisata yang banyak dicari oleh penggemar Traveling.  Membahas tempat2 wisata di Nusa Tenggara tidak ada habisnya salah satunya di Sumba Timur, kita tak hanya dapat menikmati pemandangan lautan, air terjun,  pantai dan desa2 khas NTT, namun juga akan merasakan luas dan damainya savana salah satunya di Bukit Wairinding. Tempat yang sempat terkenal karena dijadikan lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas yg belakangan ini kembali hits di dunia maya. Selain bukit Wairinding Sumba Timur juga memiliki Air Terjun Tanggedu, Pantai Walakiri atau bukit persaudaraan/Mau Hau kita bisa menikmati hamparan sawah di serta pohon lontar dan masih banyak lagi yg bisa kita explore di Sumba Timur.

1. Pantai Walakiri

sumber foto dari https://www.indonesiakaya.com/

Pantai Walakiri adalah salah satu pantai indah di Sumba Timur dengan ciri khas pantai di Sumba yang cenderung tenang, landai dengan hamparan pasir putihnya. Berada tak jauh dari pusat Kota Waingapu yaitu sekitar 24 km dan dapat ditempuh sekitar 30 menit perjalanan, akses menuju Walakiri sangatlah mudah yaitu berada tak jauh dari jalan raya menuju arah Melolo, sebuah kecamatan yang cukup besar di Sumba Timur. Pengunjung dapat menyewa motor/ mobil dari Waingapu untuk menuju ke Walakiri dikarenakan susahnya transportasi umum dalam kota di Sumba.

Meskipun berada di dekat pemukiman warga dan cukup ramai dikunjung oleh para pelancong baik dari dalam kota maupun luar kota, tak ada tarif yang dikenakan oleh warga setempat untuk mengunjungi pantai indah ini. Terlebih lagi setelah Mira Lesmana yang memproduseri film Pendekar Tongkat Emas mempopulerkan pantai ini lewat akun instagramnya, Walakiri pun semakin ramai dikunjungi oleh pengunjung yang penasaran ingin membuktikan sendiri kecantikan Pantai Walakiri. Walakiri memiliki mangrove yang unik dengan hamparan pasir putih dihiasi jajaran pohon kelapa yang memberi keteduhan dan suasana nyaman saat pengunjung berjalan menyusuri pantai. 

sumber foto dari https://1.bp.blogspot.com/

Keunikan lain dari Pantai Walakiri ini adalah terdapatnya 2 jenis tekstur pasir yang berbeda antara pasir di tepi pantai dan pasir di area bekas laut yang surut. Pasir di tepi pantai memiliki tekstur seperti pasir pantai pada umumnya, yaitu butiran-butiran berwarna putih gading, sedangkan pasir di area bekas laut yang surut memiliki tekstur seperti bedak atau semen basah yang kemudian kering dan mengeras. Dan uniknya lagi ada garis batas yang jelas antara kedua jenis pasir tersebut.

Walakiri ini terbilang pantai yang sangat unik dan merupakan spot yang tepat untuk menunggu matahari terbenam. Penasaran uniknya? Pohon-pohon mangrove kerdil yang terdapat di ujung bibir pantai ini jawabannya. Apabila air sedang pasang sekilas tak ada yang membuat unggul Pantai Walakiri, namun tunggu sampai air sedikit surut. Siluet pepohonan mangrove yang meliuk-liuk bak penari membuat Walakiri menjadi sebuah fenomena yang unik dan memanjakan mata. Ketika matahari terbenam, perpaduan antara warna langit senja dan siluet pohon mangrove terlihat sungguh artistik dan fotogenik untuk di foto dari segala arah. Jangan lupa siapkan kamera Anda untuk mengabadikan momen tersebut. Jadi, penasaran ingin menyaksikan sendiri sunset artistik ala Pantai Walakiri?

2. Kampung Adat Praiyawang

sumber foto dari https://www.indonesiakaya.com/

Sumba Timur, terkenal dengan ritual adatnya yang kental. Di sana terdapat beberapa kampung adat yang biasa digunakan sebagai lokasi ritual tersebut. Salah satu kampung adat yang biasa digunakan untuk menyelenggarakan ritual bagi masyarakat Sumba Timur adalah Kampung Praiyawang. Kampung yang berada sekitar 69 km dari kota Waingapu ini berada di Desa Rindi (biasa disebut Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Berkendara dari Kota Waingapu menuju Kampung Praiyawang akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan, tergantung pada kecepatan kendaraan. Karena belum ada sarana transportasi umum menuju kampung ini, bagi para pendatang yang ingin melihat kampung ini dapat menggunakan motor/mobil sewaan. Jalanan menuju kampung ini berupa aspal hitam yang mulus.

sumber foto dari https://www.pedomanwisata.com/

Memasuki Kampung Praiyawang nuansa peradaban masa silam akan sangat terasa. Sederetan bangunan makam-makam kuno yang terbuat dari batu dengan pahatan unik di sekelilingnya terlihat di sisi kiri dari akses jalan masuk, serta rumah-rumah adat yang terbuat dari kayu dengan atap yang menyerupai menara tinggi. Di tengah kampung terdapat 1 bangunan rumah yang terbuka dindingnya sehingga menyerupai aula sebuah aula besar. Di rumah tersebut terdapat 2 lemari kaca besar yang berisikan aneka peralatan kuno yang telah berumur raturan tahun, yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat. Upacara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Praiyawang adalah upacara persembahan dan penyimpanan jenazah sebelum dimakamkan.

Rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki bentuk atap yang unik, yaitu berbentuk lancip. Dan setiap rumah akan memiliki 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Hal tersebut mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Sumba, yaitu alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa). Di Kampung Praiyawang terdapat 8 rumah induk yang mengelilingi rumah adat dan makam-makam batu berukuran besar yang beratnya mencapai 1-5 ton untuk setiap makamnya. Ke-8 rumah induk itu melambangkan 8 keturunan bangsawan yang ada di Kampung Praiyawang. Sementara rumah adat yang terdapat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda, misalnya Rumah Besar (Rumah Adat Harapuna/Uma Bokul) digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, Rumah Adat Uma Ndewa  digunakan sebagai tempat ritual cukurnya bagi anak Raja yang baru lahir, kemudian Rumah Adat Uma Kopi digunakan sebagai tempat untuk minum kopi.

Tradisi di Kampung Praiyawang, anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaganya. Sehingga yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak ke-2, ke-3 dan seterusnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga adat-istiadat dan keberlangsungan kehidupan Kampung Praiyawang.

3. Masjid Agung Al-Jihad Waingapu

sumber foto dari https://c1.staticflickr.com/

Waingapu adalah ibu kota dari Kabupaten Sumba Timur. Daerah tersebut adalah daerah terbesar di Pulau Sumba. Berjumlah penduduk 52.755 jiwa dan di kelilingi oleh panorama yang indah, Kota Waingapu sangat cocok di jadikan destinasi wisata.

Selain menjadi destinasi wisata yang tak boleh di lewatkan, rupanya ada beberapa fakta mengenai Kota Waingapu. Kota tersebut di huni oleh mayoritas beragama protestan. Namun, pada kota tersebut terdapat sebuah masjid.

Di Waingapu memiliki masjid yang besar dan megah. Masjid terbesar itu bernama Masjid Al-Jihad dengan dinding berwarna hijau dan kubah berwarna putih.

sumber foto dari http://4.bp.blogspot.com/

Masjid tersebut menjadi sebuah ciri bahwa masyarakat muslim di sana cukup banyak. Biasanya warga yang menganut agama Islam di sana merupakan masyarakat pendatang dari Sulawesi, Jawa dan bahkan Arab.

Pada awal mulanya bangunan masjid ini berbentuk surau yang sangat seerhana, dibangun tahun 1850 masehi oleh Sayid Abdurrahman bin Abu Bakar yang dipelopori oleh Sayid Umar bin Abdulgadir Aljuprie. Masjid ini menjadi pusat kegatan syariat Islam di sekitar teluk Nangamesi. Pengembangan masjid didorong oleh semangat perjuangan terhadap kolonial Belanda. Pada tahun 1920 M Masjid Agung Waingapu menjadi pusat pergerakan perlawanan rakyat, terlebih sejak banyaknya tokoh pergerakan yang dibuang kewilayah tersebut. Karena itulah masjid ini diberi nama  Masjid Agung Al- Jihad Waingapu.

WordPress Image Lightbox