Destinasi Pariwisata Daerah Tertinggal

Kabupaten Teluk Wondama adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Rasiei. Kabupaten ini mulai terbentuk pada tanggal 12 April 2003 sebagai hasil dari pemekaran Kabupaten Manokwari berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2002.

Kabupaten ini terdiri dari 13 distrik atau kecamatan dan 75 kampung atau desa dan 1 Kelurahan. Ibu kota Kabupaten Teluk Wondama, Rasiei dapat dijangkau dari Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat dengan pesawat udara jenis Twin Otter dan kapal laut, baik kapal PELNI maupun kapal-kapal pelayaran rakyat lainnya.

Menyusuri wilayah Papua Barat, kita akan disuguhkan keindahan panorama alam. Baik keindahan hutan yang dipenuhi flora dan fauna maupun keindahan lautan dengan pulau-pulau dan pantainya yang berpasir putih. Keindahan dan keaslian alam Papua Barat sudah terkenal hingga ke manca negara. Hingga menarik wisatawan untuk datang berkunjung, meskipun belum dikelola secara maksimal.

Siapa yang tak kenal burung cenderawasih?? Burung Cenderawasih merupakan burung yang sudah menjadi ikon Papua bahkan diabadikan menjadi nama salah satu Teluk di Papua Barat, yakni Teluk Cenderawasih dimana terletak Kabupaten Teluk Wondama. Kabupaten Teluk Wondama secara geografis, terletak antara 0015” hingga 30,25” lintang Selatan dan 1320,35 hingga 1340,45” Bujur Timur dengan luas wilayah sekitar 14.953,8 Km2.

Teluk Wondama sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat itu tentu saja menyimpan keindahan alam yang mempesona. Banyak objek wisata bahari yang menarik untuk dikunjungi. Diantaranya pantai Pasir Panjang di Pulau Rumberpon, Pulau Nusrowi, juga ada gugusan Kepulauan Auri, belum lagi air terjun yang berlapis-lapis di Kali Wanayo Kesemuanya menyajikan panorama alam yang indah dan mempesona.

1. Taman Nasional Teluk Cendrawasih

sumber foto dari https://i1.wp.com/www.cahayapapua.com/

Taman Nasional Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).

Taman nasional ini terletak di Teluk Cenderawasih, provinsi Papua Barat. Taman Nasional Teluk Cenderawasih meliputi pulau Mioswaar, Nusrowi, Roon, Rumberpon dan Yoop. Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya.

sumber foto dari https://backpackerjakarta.com/

Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.

Untuk bisa datang ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih ini, jika Anda dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang, Jayapura, Honolulu dan Darwin menggunakan pesawat ke Biak, selanjutnya dari Biak menggunakan pesawat ke Manokwari atau Nabire. Dari Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Jayapura menggunakan kapal laut ke Manokwari atau Nabire. Dari Manokwari ke lokasi taman nasional (Pulau Rumberpon) menggunakan longboat dengan waktu 5,5 jam. Atau dari Manokwari ke kota kecamatan Ransiki dengan mobil sekitar tiga jam dan dilanjutkan dengan motorboat sekitar 2,5 jam.

2. Injil tertua di Gereja Desa Yende

sumber foto dari https://4.bp.blogspot.com/

DI KAMPUNG Yende Distrik Roon terdapat sebuah gereja tua. Ini menjadi daya tarik wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) Ben G Saroy mengatakan, gereja di kampung tersebut sudah berumur ratusan tahun.

Disitu juga ada kitab Injil tertua di tanah Papua. Usianya diperkirakan mencapai 119 tahun sejak penginjil datang di kampung tersebut. Jasad para penginjil pun dikubur di situ. BBTNTC sejak beberapa tahun terakhir melakukan pendampingan di kampung ini. Pihaknya mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Kampung Yende sangat mempesona jika dilihat dari arah laut. Kampung ini berada tepat di pesisir pantai. Transportasi laut menuju kampung ini pun saat ini sudah lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu. Kalau kita dari Manokwari, Kapal dari sini akan lebih dulu singgah di Yende sebelum ke Wasior. Pantainya bersih, suasana dikampung ini masih sangat alami.

sumber foto dari http://www.harnas.co/

Selain Yende, obyek pariwisata lain bisa dinikmati di kawasan tersebut, baik di darat maupun laut. Di kawasan Pulau Roon terdapat sebuah pulau kecil. Pengunjung dapat menyaksikan sosok penjaga pulau saat siang maupun malam hari. Pulau tersebut berdiri layaknya tiang. Di atas permukaan laut ditumbuhi pepohonan lebat. Di dasar laut pulau ini dipenuhi berbagai jenis terumbu karang. Kalau mau snorkling dan diving bisa kita lakukan disini.

Banyak potensi di kawasan Roon yang bisa dikembangkan menjadi destinasi pariwisata berskala internasional. Pihaknya sedang mendorong pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) berbasis pariwisata di Kampung Yende dan beberapa kampung lain wilayah Roon.

3. Festival Pulau Roon

sumber foto dari https://www.tajuktimur.com/

Festival Pulau Roon (FPR) ini merupakan pagelaran kebudayaaan yang diselenggarakan untuk menggali dan mengangkat sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya serta potensi wisata Pulau Roon.

Festival ini menyuguhkan beragam atraksi budaya juga kesenian khas masyarakat Roon serta kebiasaan-kebiasaan unik yang menjadi kearifan lokal masyarakat setempat.

Kepala Distrik Roon Yefta Siregar menuturkan, FPR adalah terobosan untuk mendorong percepatan pembangunan sektor pariwisata di Kabupaten Teluk Wondama, khususnya Pulau Roon yang sejatinya menyimpan potensi wisata yang cukup menjanjikan.

FPR mengagendakan berbagai atraksi dan suguhan yang dijamin memberi kenikmatan tersendiri bagi para pengunjung. Diantaranya,  hunting attraction yakni kegiatan berburu babi dan tikus tanah di Pulau Rariei.

Ada pula fishing attraction yakni penduduk lokal menyajikan atraksi menangkap ikan dengan menggunakan alat tradisional.

sumber foto dari https://bimg.antaranews.com

Para pengujung juga bisa menyaksikan prosesi tokok sagu massal (pengolahan sagu secara tradisional) serta cara memasak makanan lokal di mana pengunjung bisa langsung menikmati makanan yang disajikan.

Pengunjung diajak melihat langsung destinasi wisata di Pulau Roon. Biasanya, Panitia menyiapkan 3 destinasi pilihan yaitu sacral place berupa wisata sejarah/sakral bahari atau budaya/religi seperti air terjun, gua tengkorak dan pulau kelelawar.

Termasuk melihat Alkitab tua yang telah berusia lebih dari 200 tahun di Yende. Ada juga wisata adventure dengang mengunjungi hutan mangrove yang masih asri serta pulau dengan pantai yang eksotis di kepulauan Auri. Ada juga wisata underwater bagi pengunjung yang suka menyelam maupun foto bawah laut.

WordPress Image Lightbox